Konsumsi Rokok di Banjar Tinggi: Gairahkan Perdagangan, Tapi Kurangi Kesejahteraan

- Penulis

Rabu, 8 Oktober 2025 - 18:28 WITA

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

pro1.id, MARTAPURA – Pengeluaran rumah tangga untuk rokok di Kabupaten Banjar tercatat sangat tinggi, hanya kalah dari beras dan bahkan melampaui belanja ikan. Data tersebut terungkap dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2024, yang memicu kekhawatiran soal dampaknya terhadap kesejahteraan warga.

Guru Besar Ekonomi dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Prof. Dr. M. Handry Imansyah, mengungkapkan bahwa tingginya konsumsi rokok merupakan fenomena ekonomi yang kompleks—menguntungkan secara perdagangan, tetapi merugikan bagi kesejahteraan masyarakat berpenghasilan rendah.

“Rokok memang punya peran dalam mendorong aktivitas dagang, namun sekaligus menyerap anggaran rumah tangga yang seharusnya bisa dialokasikan untuk kebutuhan yang lebih produktif,” ujarnya, Rabu (8/10/2025).

Secara makro, transaksi rokok menyumbang perputaran uang di daerah. Pembelian rokok menciptakan rantai perdagangan mulai dari distributor hingga pengecer. Bahkan, sektor perdagangan eceran yang mencakup penjualan rokok masuk dalam lima besar kontributor Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Banjar.

Dengan pengeluaran rata-rata lebih dari Rp70 ribu per orang per bulan untuk rokok, potensi nilai transaksi mencapai miliaran rupiah setiap bulan. Meski demikian, Prof. Handry mengingatkan bahwa dampak ekonominya bersifat jangka pendek dan tidak menghasilkan nilai tambah lokal.

Baca Juga :  Perkuat Sinergi Pembinaan, Lapas Narkotika Karang Intan Audiensi dengan Pemkab Banjar

“Kebanyakan rokok yang dikonsumsi di Banjar berasal dari luar daerah seperti Kudus atau Jawa Timur. Jadi keuntungan produksinya tidak dinikmati oleh masyarakat lokal,” jelasnya.

Dari sisi ekonomi rumah tangga, tingginya konsumsi rokok justru memperparah kerentanan keluarga miskin. Data dari BPS menunjukkan bahwa keluarga dalam kelompok pendapatan terbawah 40% justru memiliki tingkat belanja rokok yang signifikan.

“Padahal dana itu bisa dialihkan untuk keperluan yang lebih esensial seperti pendidikan anak, peningkatan gizi keluarga, atau modal usaha,” tambahnya.

Dalam analisis ekonomi, kondisi ini termasuk dalam kategori opportunity cost—biaya peluang karena mengutamakan belanja yang tidak menghasilkan manfaat jangka panjang.

Di samping itu, kebiasaan merokok juga memicu masalah kesehatan yang memperbesar beban biaya pengobatan, menurunkan produktivitas, dan pada akhirnya memengaruhi ketahanan ekonomi keluarga secara keseluruhan.

Baca Juga :  Lansia Ditemukan Tak Bernyawa di Rumah, Polisi Telusuri Barang yang Diduga Hilang

Meski memiliki dampak negatif, Prof. Handry mengakui bahwa rokok masih menjadi sumber pendapatan penting bagi warung kecil dan pedagang eceran.

“Banyak warung menggantungkan transaksi harian mereka pada penjualan rokok. Jika dihilangkan begitu saja, justru bisa mengganggu stabilitas ekonomi mikro,” ungkapnya.

Karena itu, ia menyarankan agar pendekatan solusi tidak sebatas pada pembatasan konsumsi, melainkan diarahkan pada pergeseran belanja masyarakat ke produk lokal yang lebih produktif, seperti makanan olahan, hasil tani lokal, atau usaha kecil berbasis rumah tangga.

Menurutnya, konsumsi rokok yang tinggi tidak bisa dibaca sebagai tanda ekonomi yang sedang tumbuh sehat.

“Memang ada transaksi, tapi kontribusinya pada pembangunan sangat kecil. Justru lebih banyak merugikan dalam jangka panjang,” tegasnya.

Prof. Handry menekankan perlunya perubahan pola konsumsi agar pertumbuhan ekonomi daerah bisa lebih berkualitas dan merata.

“Jika pengeluaran untuk rokok terus mendominasi, itu justru menjadi sinyal peringatan bagi pembuat kebijakan. Bukan indikator kemajuan,” tutupnya.

Berita Terkait

Posbindu Lansia hingga Posyandu Remaja di Tunggul Irang Ilir Berikan Layanan Kesehatan Gratis
BLT Tahap 10 Desa Tunggul Irang Ilir Disalurkan kepada Enam Penerima Manfaat
Pambakal Kuin Besar Ikuti Bimtek Awal Masa Jabatan Periode Kedua
Evaluasi APBDes Perubahan 2026, Pemdes Tambak Anyar Ulu Sesuaikan Anggaran dengan Kebutuhan Desa
Posyandu Melati Rampah Layani Sekitar 70 Warga, Pemeriksaan Kesehatan Diberikan Gratis
Dahan Pohon Menjuntai ke Jalan, DPRKPLH Banjar Lakukan Pemangkasan di Tambak Anyar Ulu
Pria di Karang Intan Tewas Diduga Dianiaya, Polisi Amankan Sejumlah Barang Bukti
Pemkab dan Polres Banjar Serahkan Bantuan Alsintan, Dukung Target Tanam Jagung 150 Hektare

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 06:35 WITA

Posbindu Lansia hingga Posyandu Remaja di Tunggul Irang Ilir Berikan Layanan Kesehatan Gratis

Kamis, 22 Oktober 2026 - 06:28 WITA

BLT Tahap 10 Desa Tunggul Irang Ilir Disalurkan kepada Enam Penerima Manfaat

Rabu, 21 Oktober 2026 - 16:01 WITA

Pambakal Kuin Besar Ikuti Bimtek Awal Masa Jabatan Periode Kedua

Rabu, 21 Oktober 2026 - 15:03 WITA

Evaluasi APBDes Perubahan 2026, Pemdes Tambak Anyar Ulu Sesuaikan Anggaran dengan Kebutuhan Desa

Rabu, 21 Oktober 2026 - 14:39 WITA

Dahan Pohon Menjuntai ke Jalan, DPRKPLH Banjar Lakukan Pemangkasan di Tambak Anyar Ulu

Berita Terbaru

Kabupaten Banjar

Pambakal Kuin Besar Ikuti Bimtek Awal Masa Jabatan Periode Kedua

Rabu, 21 Okt 2026 - 16:01 WITA