pro1.id, BALIKPAPAN – Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup (KWPLH) Beruang Madu Balikpapan saat ini merawat enam ekor beruang madu yang ditempatkan di area enklosur seluas kurang lebih 1,3 hektare.



Supervisor KWPLH, Mulyana menjelaskan bahwa awalnya kawasan tersebut menampung lima ekor beruang madu pada periode 2002 hingga 2005. Selanjutnya, beberapa kali terjadi penambahan satwa dari hasil penyerahan dan sitaan masyarakat.
“Pada 2011 ada penambahan satu ekor dari sitaan masyarakat. Kemudian pada 2013 dan 2014 masing-masing bertambah satu ekor, sehingga jumlahnya sempat mencapai delapan ekor,” ujarnya.

Namun, seiring berjalannya waktu jumlah beruang di kawasan tersebut berkurang karena faktor usia. Pada 2014 satu ekor beruang betina yang sudah tua mati, disusul satu ekor beruang jantan pada 2017.


“Jadi saat ini jumlah beruang madu yang dirawat di sini ada enam ekor, terdiri dari empat jantan dan dua betina,” jelasnya.

Keenam beruang tersebut ditempatkan di area enklosur, yaitu kandang besar yang dirancang menyerupai habitat alami satwa agar mereka dapat beraktivitas lebih bebas.


Selain dapat melihat beruang madu secara langsung, kawasan wisata pendidikan lingkungan ini juga menyediakan berbagai informasi tentang satwa liar, termasuk edukasi mengenai beruang madu, satwa endemik Borneo, serta bahaya perdagangan satwa liar.

Di kawasan tersebut juga terdapat puluhan hewan lain yang dirawat oleh pengelola, seperti kucing dan anjing.
“Di sini kami juga merawat sekitar 89 ekor kucing dan 25 ekor anjing. Namun perlu diketahui bahwa tempat ini bukan tempat pembuangan hewan. Hewan yang ada di sini kami rawat dengan baik dan kami juga membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin mengadopsi,” katanya.
Bagi pengunjung yang ingin melihat aktivitas beruang madu dengan lebih jelas, waktu terbaik berkunjung adalah saat jadwal pemberian pakan.
“Waktu yang paling baik untuk melihat beruang madu adalah pada pukul 09.00 pagi dan sekitar pukul 15.00 sore. Pada saat itu beruang biasanya mendekati pinggir kandang sehingga pengunjung bisa melihat aktivitas mereka lebih dekat,” jelas Mulyana.
Ia juga menjelaskan bahwa tidak semua beruang dapat ditempatkan dalam satu area yang sama. Hal tersebut karena beruang madu merupakan satwa yang hidup secara soliter di alam liar.
“Karena sifatnya soliter, ada yang tidak bisa akur jika digabung. Jadi kami pisahkan, biasanya empat ekor berada di enklosur utama dan dua ekor ditempatkan di enklosur yang lebih kecil. Setiap minggu juga dilakukan pergantian tempat agar mereka tidak jenuh,” terangnya.
Mulyana menambahkan, keberadaan beruang madu di alam liar saat ini semakin terancam akibat kerusakan hutan dan perburuan liar.
“Jika pembukaan hutan terus terjadi dan perburuan masih berlangsung, beruang madu bisa semakin langka bahkan terancam punah. Karena itu kami berharap semua pihak dapat ikut menjaga kelestarian satwa ini,” pungkasnya.










