pro1.id, AMUNTAI – Tindakan berani sepasang orang tua di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) patut diapresiasi. Demi menyelamatkan anaknya yang terjerat kecanduan sabu, mereka memilih melapor ke BNN HSU dan Dinas Sosial Amuntai agar sang anak bisa mendapatkan penanganan profesional.

Pemuda berusia 25 tahun itu diketahui sudah lama bergantung pada narkoba jenis sabu. Berdasarkan keterangan keluarga, dalam sehari ia bisa menggunakan narkoba berkali-kali dan kerap meminta uang ratusan ribu rupiah untuk membeli barang haram tersebut. Kondisi tersebut membuat keluarga kehilangan kendali dan khawatir keselamatan dirinya maupun orang lain bisa terancam.
Melihat situasi yang semakin memburuk, pihak keluarga akhirnya meminta bantuan kepada BNN dan Dinsos. Setelah dilakukan asesmen awal, Dinsos Amuntai merekomendasikan agar pemuda tersebut dibawa ke Yayasan Pemulihan dan Rehabilitasi (YPR) KOBRA) — lembaga resmi penerima wajib lapor (IPWL) yang fokus pada penanganan korban penyalahgunaan narkoba.
Petugas YPR KOBRA kemudian berkoordinasi dengan keluarga dan Dinsos untuk melakukan penjemputan pada dini hari sekitar pukul 03.00 WITA. Proses berjalan aman dan tanpa perlawanan. Kini, pemuda itu sudah berada di Banjarbaru dan tengah menjalani rehabilitasi medis serta sosial.
Ketua YPR KOBRA Kalimantan Selatan, Ardian Noverdi Pratama, menyebutkan bahwa rehabilitasi dilakukan secara bertahap dan terukur.
“Tahap pertama adalah asesmen untuk mengetahui tingkat ketergantungan. Lalu dilanjutkan dengan intervensi medis guna menurunkan kadar zat dalam tubuh, serta pembinaan karakter dan kedisiplinan agar klien siap kembali ke masyarakat,” terangnya.
Setelah menjalani masa rehabilitasi, klien akan tetap mendapatkan pendampingan melalui Family Support Group (FSG) yang melibatkan keluarga, serta pengawasan lanjutan untuk memastikan proses pemulihan berjalan optimal.
Menurut Ardian, dampak narkoba bukan hanya menghancurkan fisik, tetapi juga kejiwaan, spiritualitas, hingga hubungan sosial.
“Banyak pengguna kehilangan arah hidup, tertekan secara mental, bahkan menjauh dari keluarga dan nilai agama. Karena itu, rehabilitasi adalah jalan terbaik untuk mengembalikan masa depan mereka,” ujarnya.
Ia berharap, apa yang dilakukan keluarga ini bisa menjadi contoh bagi masyarakat lain untuk berani melapor ketika menghadapi situasi serupa.
“Langkah dini jauh lebih baik daripada membiarkan korban semakin terjerumus. Dengan penanganan cepat, peluang untuk pulih dan kembali produktif akan jauh lebih besar,” tutup Ardian.









