Anggaran Dipangkas, DPKP Kalsel Sesuaikan Strategi Pengembangan Hortikultura 2026

- Penulis

Selasa, 3 Februari 2026 - 16:45 WITA

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

(FOTO : MC KALSEL)

(FOTO : MC KALSEL)

pro1.id, BANJARBARU – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kalimantan Selatan melakukan penyesuaian program dan kegiatan Bidang Hortikultura pada tahun 2026. Langkah ini diambil seiring kebijakan pemangkasan anggaran daerah serta upaya sinkronisasi dengan arah program pemerintah pusat.

Kepala DPKP Kalsel melalui Kepala Bidang Hortikultura, Amir Sahlan, menyampaikan bahwa secara garis besar program hortikultura tahun 2026 masih sejalan dengan tahun sebelumnya. Namun, pelaksanaannya disesuaikan dengan keterbatasan fiskal daerah dan kebijakan nasional yang tengah berjalan.

“Pada prinsipnya tidak banyak perubahan. Program hortikultura 2026 tetap mengacu pada kebijakan pusat, dengan penyesuaian karena adanya pemangkasan anggaran,” ujar Amir Sahlan di Banjarbaru, Selasa (3/2/2026).

Ia mengungkapkan, anggaran bidang hortikultura tahun 2026 mengalami pengurangan hingga sekitar 50 persen dibandingkan tahun 2025. Meski demikian, DPKP Kalsel tetap memfokuskan program pada pengembangan komoditas strategis yang berkontribusi langsung terhadap pengendalian inflasi daerah.

Komoditas sayuran yang menjadi prioritas meliputi cabai besar, cabai rawit, dan bawang merah. Sementara untuk tanaman buah, pengembangan masih diarahkan pada komoditas unggulan daerah seperti pisang, durian, dan jeruk. Selain itu, tanaman obat serta tanaman hias tetap menjadi bagian dari agenda pengembangan hortikultura.

Baca Juga :  PUPR Kalsel Sebut Proyek Stadion Internasional Banjarbaru Capai Rp1 Triliun, Target Groundbreaking 2026

“Kami melakukan penyesuaian volume bantuan. Contohnya pada bawang merah, dari kebutuhan satu ton bibit per hektare kini disiasati menjadi 500 kilogram per hektare. Namun prinsip dukungan kepada petani tetap kami jaga,” jelas Amir.

Menurutnya, keterbatasan anggaran tidak menyurutkan komitmen DPKP Kalsel dalam mengawal pembangunan sektor hortikultura, baik untuk tanaman sayur, buah-buahan, maupun tanaman hias di Kalimantan Selatan.

DPKP Kalsel juga menaruh perhatian pada potensi pengembangan tanaman hias melati yang selama ini dikembangkan secara swadaya oleh masyarakat di Kabupaten Banjar dalam skala terbatas. Program tersebut direncanakan akan dioptimalkan pada tahun 2027.

“Potensi melati di Kabupaten Banjar cukup besar, namun masih berkembang secara mandiri. Ke depan, kami upayakan pengembangannya lebih luas dan terarah,” tuturnya.

Sebagai bagian dari upaya penguatan hortikultura dan tanaman pangan, DPKP Kalsel turut memanfaatkan lahan milik Pemerintah Provinsi di kawasan Bukit Merangkul, eks Sport Center. Di kawasan ini dikembangkan berbagai komoditas hortikultura seperti bawang merah, cabai besar, cabai rawit, dan durian, serta tanaman pangan berupa jagung, singkong, kacang tanah, dan beragam sayuran.

Baca Juga :  Pemkot Banjarbaru Perkuat Koordinasi Program Makanan Bergizi Gratis, Fokus pada Keamanan dan Kualitas

“Perkembangan cabai, bawang merah, dan durian di Bukit Merangkul cukup baik. Bahkan durian sudah ada yang tumbuh besar. Lahan ini sangat potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan pertanian,” ungkap Amir.

Ia menambahkan, pengembangan hortikultura di Kalimantan Selatan tidak hanya bergantung pada bantuan pemerintah, tetapi juga terus didorong melalui swadaya masyarakat. Sejumlah kelompok tani di berbagai daerah tetap aktif mengembangkan komoditas sayur dan buah secara mandiri.

Terkait sebaran komoditas buah, Amir menjelaskan bahwa durian banyak dikembangkan di Kabupaten Banjar dan Tanah Laut, serta sebagian wilayah Hulu Sungai Tengah dan Tabalong. Sementara penyaluran bibit pisang dilakukan berdasarkan permohonan kabupaten/kota yang telah diverifikasi terhadap kelompok tani.

Untuk komoditas jeruk, DPKP Kalsel masih menghadapi tantangan penurunan produktivitas seiring berkurangnya dukungan pendanaan dari pemerintah pusat sejak 2023.

“Pengembangan jeruk sebelumnya sangat bergantung pada dana APBN. Namun dalam tiga tahun terakhir dukungan tersebut tidak lagi tersedia, sehingga kini hanya mengandalkan APBD. Dampaknya, produktivitas jeruk di Barito Kuala dan Kabupaten Banjar mulai menurun, dan ini terus kami antisipasi,” pungkasnya. (SUMBER : MC KALSEL)

Berita Terkait

KAKI Desak Kejati Kalsel Tuntaskan Mafia Tanah HSS, Dugaan Penyimpangan Sejumlah Proyek Ikut Disorot
Kukuhkan Pengurus PGMI Banjarbaru, Lisa Halaby Tekankan Pentingnya Akhlak dan Kualitas Guru Madrasah
Persaingan Panas Berakhir! Angkatan 24 Keluar sebagai Juara Umum POH HIMALOGIKAN 2026
Persaingan Sengit di Futsal POH HIMALOGIKAN 2026, Angkatan 23 Keluar sebagai Juara
Profesor ULM Ingatkan Ancaman Super El Niño, Panas Ekstrem hingga Krisis Pangan Jadi Sorotan
Akt 24 Sapu Bersih Skor 3-0, Rebut Gelar Juara Mobile Legends POH HIMALOGIKAN 2026
Lapangan Jadi Saksi! Empat Tim Angkatan Siap Bertarung di Futsal POH HIMALOGIKAN 2026
Lima Tim Bersaing dalam Pertandingan Mobile Legends POH HIMALOGIKAN 2026

Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 20:37 WITA

KAKI Desak Kejati Kalsel Tuntaskan Mafia Tanah HSS, Dugaan Penyimpangan Sejumlah Proyek Ikut Disorot

Jumat, 16 Oktober 2026 - 14:51 WITA

Kukuhkan Pengurus PGMI Banjarbaru, Lisa Halaby Tekankan Pentingnya Akhlak dan Kualitas Guru Madrasah

Jumat, 16 Oktober 2026 - 14:37 WITA

Persaingan Panas Berakhir! Angkatan 24 Keluar sebagai Juara Umum POH HIMALOGIKAN 2026

Jumat, 16 Oktober 2026 - 14:20 WITA

Persaingan Sengit di Futsal POH HIMALOGIKAN 2026, Angkatan 23 Keluar sebagai Juara

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:38 WITA

Profesor ULM Ingatkan Ancaman Super El Niño, Panas Ekstrem hingga Krisis Pangan Jadi Sorotan

Berita Terbaru

Kabupaten Banjar

Pambakal Kuin Besar Ikuti Bimtek Awal Masa Jabatan Periode Kedua

Rabu, 21 Okt 2026 - 16:01 WITA