pro1.id, MARTAPURA – Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Banjar bersama Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kalimantan Selatan kembali meninjau pembudidaya ikan mas di kawasan Aranio yang sebelumnya terkena wabah virus Koi Herpes (KHV), Rabu (26/11/2025).
Kunjungan ini bertujuan memantau kondisi ikan setelah wabah dan memastikan pemulihan populasi ikan berjalan baik.
Muhammad Rizky, salah satu pembudidaya keramba jala apung yang terdampak, menceritakan kematian ikan yang terjadi dua bulan lalu secara mendadak.
“Insangnya membusuk, sisiknya berubah merah, dan tiba-tiba banyak yang mati. Kami tidak menyangka itu virus. Kerugian saya mencapai satu pikul ikan,” ujarnya.
Rizky menambahkan, setelah satu bulan, kondisi ikan mulai stabil dan tidak ada lagi kematian.
“Dinas sebelumnya sudah memberikan vitamin sebagai penanganan awal, dan sekarang ikan mulai pulih,” kata Rizky.
Dalam kegiatan ini, DKPP Banjar dan DKP Kalsel mengambil sampel ikan dan air di sekitar keramba untuk dicek pH dan memastikan tidak ada infeksi tersisa. Seluruh sampel dikirim ke Laboratorium BPAT Mandiangin untuk dianalisis lebih lanjut.
Apriyan Mindar Waspodo, Kepala Seksi Pengelolaan dan Pembudidayaan DKPP Banjar, menekankan pentingnya peninjauan ulang ini untuk memastikan pemulihan ikan stabil.
“Provinsi memberikan dukungan untuk membantu pembudidaya yang terdampak,” ujarnya.
Apriyan menjelaskan bahwa sampel diambil dari beberapa lokasi pembudidaya untuk diuji di laboratorium.
“Sudah hampir sebulan tidak ada kematian. pH air normal. Dugaan awal wabah dipicu perubahan musim dan rendahnya kadar oksigen terlarut. Kita menunggu hasil laboratorium untuk mengetahui apakah virus masih tinggi atau sudah berkurang,” jelasnya.
Sebagai langkah lanjutan, DKPP Banjar menyalurkan vitamin tambahan yang dicampurkan ke pakan ikan guna meningkatkan daya tahan tubuh dan memulihkan nafsu makan ikan yang sempat menurun akibat virus.









