Film Kuyank 2026 dan Representasi Tekanan Sosial terhadap Perempuan

- Penulis

Jumat, 30 Januari 2026 - 20:52 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

pro1.id, BANJARBARU – Film Kuyank tidak sekadar menghadirkan sosok kuyang sebagai figur mistis, tetapi memposisikannya sebagai representasi dari tekanan sosial yang dialami perempuan, terutama dalam relasi keluarga dan pernikahan. Horor yang dibangun tidak hanya berasal dari unsur gaib, melainkan dari praktik sosial yang menempatkan perempuan dalam posisi rentan.

Cerita berlatar di Desa Sungai Tinggi, kawasan Nagara, Kecamatan Daha Utara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Wilayah ini dikenal sebagai kawasan tua masyarakat Banjar yang masih kuat memegang mitos, adat, dan kehidupan berbasis sungai. Latar tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penunjang visual, tetapi juga membentuk konteks budaya yang mengikat konflik dalam film.

Kehidupan masyarakat sungai ditampilkan melalui aktivitas jukung dan rumah lanting yang berdiri di atas aliran sungai. Sungai menjadi ruang hidup yang menyatu dengan keseharian warga, sekaligus ruang simbolik yang kelak berperan penting dalam alur tragedi film.

Film Kuyank turut menampilkan praktik adat Banjar, salah satunya badatang atau prosesi lamaran. Dalam cerita, keluarga Badri melakukan badatang kepada Rusmiati yang kemudian diikuti dengan babilangan, perhitungan adat untuk melihat kecocokan pasangan. Hasil babilangan menempatkan hubungan mereka pada bilangan habu di atas tihang, yang dimaknai sebagai pertanda hubungan rapuh jika diteruskan.

Baca Juga :  Sadali: Tentang Cinta yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi

Meski demikian, peringatan adat tersebut tidak menghentikan keinginan Badri untuk menikahi Rusmiati. Keputusan ini memperlihatkan benturan antara norma adat dan kehendak personal, yang menjadi benang merah konflik sepanjang film.

Selain itu, film juga menampilkan tradisi beusung, prosesi perkawinan khas Nagara di mana pengantin diusung sebagai simbol penghormatan dan peralihan hidup. Tradisi ini menegaskan keterlibatan komunitas dalam kehidupan rumah tangga, sekaligus memperkuat latar budaya film.

Di balik kuatnya tradisi, Kuyank menyoroti posisi perempuan dalam struktur keluarga patriarkal. Rusmiati digambarkan berada dalam tekanan berlapis, terutama dari ibu mertua yang membebankan pekerjaan domestik sepenuhnya kepadanya. Nilai Rusmiati sebagai istri diukur dari kemampuannya melahirkan keturunan.

Ketika Rusmiati belum juga hamil, tekanan tersebut berkembang menjadi wacana poligami. Ibu mertua mendorong Badri untuk menikah lagi, menempatkan Rusmiati sebagai pihak yang dianggap gagal memenuhi peran reproduktif. Pada titik ini, tubuh perempuan tampil sebagai objek tuntutan sosial, bukan sebagai subjek yang memiliki kehendak.

Baca Juga :  114 Desa di Banjar Naik Kelas, Pemkab Dorong Akselerasi Pembangunan Desa Mandiri

Horor dalam film ini bergerak perlahan dari ranah mistis ke ranah sosial. Kuyang digambarkan sebagai manifestasi dari tekanan, keterasingan, dan ketidakmampuan lingkungan memahami penderitaan perempuan. Sosok tersebut lahir dari akumulasi luka, bukan dari niat jahat semata.

Badri sendiri tidak digambarkan sebagai tokoh antagonis. Ia berusaha melindungi istrinya dan menolak dorongan keluarga untuk menikah lagi. Namun, posisinya terjepit antara perannya sebagai anak dan sebagai suami, membuat upayanya tidak sepenuhnya mampu menghentikan tragedi.

Klimaks film terjadi ketika Rusmiati diketahui warga telah menjelma menjadi kuyang. Dalam situasi tersebut, Badri memilih melindungi istrinya dengan mendorong tong berisi tubuh Rusmiati ke sungai, sementara dirinya tetap berada di rumah lanting yang kemudian terbakar.

Akhir cerita menegaskan ironi film ini. Rusmiati menjadi korban dari tekanan sosial dan ketakutan kolektif masyarakat, sementara kuyang hadir sebagai simbol dari kekerasan yang lahir dari tradisi, stigma, dan kontrol terhadap tubuh perempuan.

Berita Terkait

Temulawak Sani, Warisan Herbal 50 Tahun yang Laris Manis Saat Ramadan
Sentuhan Timur Tengah Warnai Buka Puasa Perdana di Aeris Hotel Banjarbaru
Sadali: Tentang Cinta yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi
Ramadan 2026, Grand Qin Hotel Banjarbaru Sajikan Kelana Rasa Bertema Timur Tengah
Panggilan Hati Nurani Erva : Relawan Perempuan asal Bontang Kaltim, Kisah Pengabdian di Lokasi Bencana Aceh Tamiang
Kuyank, Film Horor Folklor Kalimantan Selatan, Siap Menghantui Layar Lebar Januari 2026
Melukis sebagai Ruang Pulang: Perjalanan Berkesenian Nurlita Tadzlila Wijayanti
Kopi Gadis, Ruang Berbagi dan Bukti Kemandirian Perempuan Muda dari Tapin
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 23 Februari 2026 - 23:20 WITA

Temulawak Sani, Warisan Herbal 50 Tahun yang Laris Manis Saat Ramadan

Jumat, 20 Februari 2026 - 15:49 WITA

Sentuhan Timur Tengah Warnai Buka Puasa Perdana di Aeris Hotel Banjarbaru

Minggu, 8 Februari 2026 - 18:41 WITA

Sadali: Tentang Cinta yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi

Rabu, 4 Februari 2026 - 21:25 WITA

Ramadan 2026, Grand Qin Hotel Banjarbaru Sajikan Kelana Rasa Bertema Timur Tengah

Jumat, 30 Januari 2026 - 20:52 WITA

Film Kuyank 2026 dan Representasi Tekanan Sosial terhadap Perempuan

Berita Terbaru

Kabupaten Banjar

TNI Siap Bersinergi Dukung Pengamanan Operasi Ketupat Intan 2026

Kamis, 12 Mar 2026 - 21:32 WITA

Kalimantan Selatan

Jelang Mudik Lebaran, PUPR Kalsel Percepat Perbaikan Jalan Provinsi

Kamis, 12 Mar 2026 - 21:26 WITA