pro1.id, ACEH – Di tengah puing-puing dan tenda pengungsian di Aceh, sosok Erva (34) menjadi salah satu relawan perempuan yang bertahan paling lama.

Perempuan asal Bontang, Kalimantan Timur itu telah hampir dua bulan berada di lokasi bencana, mengabdikan tenaga dan waktunya untuk para penyintas.

Keberadaan Erva di tengah situasi darurat bukan sekadar bentuk kepedulian, tetapi juga wujud keberanian. Sebagai relawan perempuan dari Kalimantan Timur, ia harus menghadapi tantangan fisik dan mental yang tak ringan. Namun dorongan hati nurani membuatnya memilih tetap tinggal, meski keterbatasan logistik dan medan berat terus menguji ketahanan dirinya.

Hari-hari awal di lokasi bencana menjadi masa yang penuh guncangan batin. Erva mengaku perasaannya campur aduk dan sedih, marah, dan kecewa pada diri sendiri karena merasa belum mampu membantu secara maksimal.

Keterbatasan bantuan membuatnya kerap terdiam ketika menyaksikan lansia ikut mengangkat logistik agar bisa mendapat jatah bantuan. Di sepanjang jalan, ia melihat anak-anak kecil berebut roti, sementara puing kayu dan sisa rumah yang hancur menjadi pemandangan sehari-hari.
Selama berada di Aceh, Erva menjalani berbagai peran. Ia bisa menjadi tenaga kesehatan darurat, guru bagi anak-anak di pengungsian, hingga kuli angkut yang membantu membersihkan lumpur dari rumah warga.
“Semua peran saya ambil. Apa pun itu, asal bisa membantu meringankan beban mereka,” ungkapnya.

Medan terberat yang harus ia lalui adalah saat mengantarkan bantuan ke desa-desa terisolir. Erva harus memikul logistik melewati puing dan genangan, berpapasan dengan para lansia yang ikut mengangkat bantuan demi keluarga mereka. Kondisi itu kerap membuat hatinya hancur.

Namun di balik penderitaan, Erva justru menemukan makna kemanusiaan yang mendalam. Saat tiba di pengungsian, para korban tak pernah menanyakan bantuan apa yang dibawa relawan. Mereka justru menyambut dengan pertanyaan sederhana.
“Mereka tanya, ‘Kak sudah makan belum?’ lalu mengajak makan bersama,” kenangnya.

Bagi Erva momen itu menjadi tamparan batin. Di tengah kehilangan rumah dan harta benda, para penyintas masih mampu menunjukkan kepedulian dan rasa hormat kepada relawan. Mereka bergantian menawarkan makanan, tempat beristirahat, bahkan menganggap Erva sebagai bagian dari keluarga.

Tak jarang, relawan perempuan dari Kaltim itu merasa menjadi anak angkat atau kakak angkat bagi warga setempat.
Sebagai perempuan, Erva menyadari dirinya harus lebih kuat. Ia menahan keluh, belajar menempatkan diri, dan bertahan di tengah kondisi pengungsian yang jauh dari layak. Panas tenda dan minimnya tempat istirahat menjadi tantangan harian yang ia hadapi.
“Rumah adalah hal yang paling mereka butuhkan saat ini,” tegasnya.

Dua bulan berada di Aceh telah mengubah cara pandang Erva tentang kemanusiaan. Dari seorang relawan perempuan asal Kalimantan Timur, ia menjadi saksi bahwa di tengah bencana, kepedulian dan keteguhan hati justru tumbuh dari mereka yang kehilangan segalanya.










