pro1.id, BANJARBARU – Pelaksanaan Musyawarah Olahraga Kota (Musorkot) KONI Banjarbaru di Kota Banjarbaru diwarnai aksi walk out dari sejumlah cabang olahraga (cabor), Sabtu (28/3/2026).



Forum yang digelar di Aula Linggangan Intan, Kantor DPRD Banjarbaru tersebut menuai kritik dari beberapa perwakilan cabor yang menilai mekanisme pencalonan ketua KONI periode 2026–2030 kurang memberikan ruang demokrasi. 
Ketua Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) Banjarbaru, Nurkhalis Anshari menyebut waktu pendaftaran calon dinilai terlalu singkat sehingga menyulitkan munculnya kandidat lain.
“Waktu pendaftaran hanya dibuka tiga hari. Itu sangat terbatas dan hampir menutup peluang bagi calon alternatif,” ujarnya.


Ia juga menyoroti syarat dukungan minimal yang dinilai cukup berat. Menurutnya, ketentuan di tingkat kota justru lebih tinggi dibandingkan tingkat provinsi.

“Kalau di provinsi cukup 10 cabor sebagai dukungan, di sini harus 20 cabor. Ini berpotensi mengarah ke calon tunggal,” katanya.


Selain itu, ia mempertanyakan legalitas forum, mengingat masa berlaku kepengurusan sebelumnya disebut telah berakhir sebelum kegiatan berlangsung.
“Kami melihat ada celah dari sisi aturan, karena masa kepengurusan sudah habis, tapi proses tetap berjalan. Ini yang jadi pertanyaan kami,” jelasnya.

Hal senada juga disampaikan perwakilan PSSI Banjarbaru yang menilai waktu pencalonan terlalu mepet sejak undangan diterima.
“Kami baru menerima undangan tanggal 25, sehingga praktis tidak ada waktu untuk mengajukan calon,” ungkapnya.

Kritik juga datang dari perwakilan Aero Sport yang menilai mekanisme pendaftaran tidak realistis.
“Waktu yang tersedia sangat singkat, sekitar satu setengah hari. Ini jelas menyulitkan bagi cabor yang ingin mengajukan kandidat,” ujarnya.
Menurutnya, keputusan walk out bukan bentuk penolakan terhadap forum, melainkan sebagai sikap agar proses ke depan bisa lebih baik.
“Kami ingin proses ini diperbaiki agar tidak menimbulkan kesan diarahkan pada satu calon saja,” katanya.

Sementara itu, Ketua Harian PBVSI Banjarbaru, Andi Prasetyo menilai ada kejanggalan lain dalam forum, salah satunya terkait absensi yang dianggap sebagai bentuk dukungan.
“Absensi kehadiran seolah dianggap sebagai dukungan terhadap calon tertentu. Itu yang menjadi keberatan kami,” ujarnya.
Meski sejumlah cabor memilih keluar dari forum, Musorkot tetap dilanjutkan oleh mayoritas peserta. Tercatat sekitar 37 cabor tetap mengikuti jalannya agenda hingga selesai.
Cabor yang melakukan walk out menyatakan akan menempuh langkah lanjutan, termasuk berkoordinasi dengan KONI Provinsi Kalimantan Selatan guna meminta evaluasi terhadap proses yang berlangsung.
Mereka berharap ke depan penyelenggaraan Musorkot dapat berjalan lebih transparan, adil, serta sesuai dengan prinsip demokrasi demi kemajuan olahraga di Banjarbaru.










