pro1.id, MARTAPURA – Keberadaan kerbau sebagai ternak tradisional di Kabupaten Banjar masih bertahan hingga kini, meski jumlahnya terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan Kesmavet) Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, drh. Lulu Vila Vardi, mengungkapkan bahwa sentra kerbau di daerah ini terpusat di dua kecamatan, yakni Cintapuri Darussalam dan Aranio.
“Kita memang masih punya ternak kerbau. Sentra utamanya ada di Cintapuri Darussalam dan Aranio,” ujarnya.
Ia menjelaskan, karakteristik kerbau di dua wilayah tersebut berbeda. Di Cintapuri Darussalam, masyarakat memelihara kerbau rawa yang umumnya hidup di kawasan perairan dangkal dan lahan basah. Sementara di Aranio, jenisnya lebih menyerupai kerbau sungai atau danau.
“Kalau di Aranio itu cenderung kerbau sungai atau danau. Sedangkan di Cintapuri lebih dominan kerbau rawa,” jelasnya.
Meski demikian, populasi kerbau di Kabupaten Banjar disebut tidak lagi sebanyak dulu. Salah satu penyebab utama adalah faktor reproduksi yang lebih lambat dibandingkan sapi.
“Kerbau itu sistem reproduksinya memang lebih lama. Bisa dua sampai tiga tahun sekali melahirkan. Jadi pertambahan populasinya tidak secepat sapi,” terangnya.
Selain faktor biologis, perubahan kondisi lingkungan turut berpengaruh. Di sejumlah wilayah, lahan rawa yang menjadi habitat kerbau mulai berkurang karena dimanfaatkan untuk kepentingan lain. Tak sedikit pula peternak yang beralih ke usaha ternak sapi karena dinilai lebih cepat berkembang.
“Daya dukung lingkungan berubah, dan sebagian masyarakat juga beralih ke ternak lain. Itu berimplikasi pada penurunan populasi,” tambahnya.
Berdasarkan data Triwulan IV Tahun 2025 yang disampaikan Kasi Kesehatan Masyarakat Veteriner, drh. Asep Yusup Nugraha Siliwandi, jumlah kerbau di Kabupaten Banjar tercatat sebanyak 560 ekor.
Rinciannya, Cintapuri Darussalam sebanyak 416 ekor, Aranio 111 ekor, dan Sungai Pinang 33 ekor.
Dari sisi pemasaran, kerbau di Kabupaten Banjar bukan menjadi komoditas utama, melainkan sebagai alternatif ketika pasokan sapi terbatas.
“Kerbau itu sifatnya melengkapi saja. Kalau stok sapi di pasar habis dan ada kerbau, biasanya dipotong untuk memenuhi kebutuhan,” jelas drh. Lulu.
Ia juga menyebut harga daging kerbau di pasaran relatif setara dengan daging sapi, sehingga keduanya diperlakukan hampir sama oleh pedagang maupun konsumen.
Meski populasinya tidak besar, keberadaan kerbau tetap menjadi bagian dari tradisi peternakan masyarakat Kabupaten Banjar yang masih bertahan hingga kini.









