pro1.id, TANAH GROGOT – Bagi pencinta alam yang gemar menembus jalur-jalur menantang, Tangkolapan adalah destinasi yang layak diperjuangkan. Berada di antara Desa Brewe dan Desa Lombok, Kecamatan Long Ikis, kawasan ini menyimpan rangkaian air terjun berundak yang membentang di tengah hutan lebat yang masih terjaga keasriannya.
Menuju lokasi utama bukanlah perjalanan singkat. Dari jalan poros, pengunjung harus melanjutkan perjalanan sekitar dua jam menggunakan sepeda motor, kemudian diteruskan dengan trekking kurang lebih empat jam menuju air terjun terbesar.
Rute yang ditempuh bervariasi—kadang kering dan berdebu, kadang berubah menjadi jalur licin saat hujan. Walaupun melelahkan, setiap perjalanan terbayar oleh panorama hutan yang masih alami.
Ahmad Fajri Rahman, warga setempat, menggambarkan perjalanan menuju kawasan tersebut sebagai pengalaman yang memadukan kesegaran udara hutan dan kejernihan sungai-sungai kecil yang dilewati sebelum mencapai pusat air terjun.
“Di sepanjang jalan, pemandangannya memanjakan mata. Sungainya bening sekali, bahkan bisa langsung diminum dari sumbernya,” ujarnya.
Air terjun Tangkolapan memiliki tinggi sekitar 8–10 meter, mengalir dari satu tingkatan ke tingkatan berikutnya. Guyurannya menciptakan kabut halus yang kadang memantulkan warna-warni pelangi ketika cahaya matahari menembus celah pepohonan.
Nama “Doyam Tangkolapan” diperkirakan lahir dari formasi delapan tingkat aliran air yang tersusun alami dari hulu ke hilir. Setiap tingkat menghadirkan karakter yang berbeda—dari cekungan dangkal berair jernih hingga dinding batu yang tampak kokoh dan menantang.
Bagi wisatawan yang ingin menjelajahi kawasan ini, waktu keberangkatan ideal adalah sekitar pukul 10 pagi agar eksplorasi dapat dilakukan dengan nyaman. Jalur menuju lokasi kini telah memiliki sejumlah penanda, kendati begitu disarankan tetap ditemani pemandu lokal karena medan masih cukup berat untuk pemula.
Tidak jauh dari air terjun juga terdapat Teluk Bidara, sebuah cekungan alami dengan air berwarna biru cerah. Tempat ini cocok untuk bersantai menikmati ketenangan alam, meski pengunjung tetap perlu berhati-hati jika tidak mahir berenang karena kedalamannya cukup signifikan.
“Kalau ke sana, lebih aman membawa bekal dari rumah. Di perjalanan belum ada warung atau tempat untuk mengisi ulang logistik,” tambah Fajri.
Bagi para penjelajah sejati, Tangkolapan bukan hanya tujuan wisata. Ia menjadi ruang untuk menyatu dengan alam yang masih liar—tempat di mana gemuruh air, semilir angin, dan bayang pepohonan raksasa menghadirkan kedamaian yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari.









