pro1.id, PADANG – Upaya menjaga kesehatan ribuan pengungsi pascabanjir bandang di Kota Padang terus diperkuat. Petugas kesehatan diterjunkan setiap hari ke posko-posko untuk memantau kondisi warga yang semakin rentan sakit.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Padang, Srikurnia Yati, pemeriksaan di lapangan memperlihatkan bahwa gangguan pernapasan, terutama ISPA, kini paling banyak ditemukan. Ia menilai cuaca yang masih tidak menentu, ditambah kelelahan fisik dan imunitas warga yang menurun, berperan besar dalam meningkatnya kasus tersebut.
Salah satu penyebabnya adalah debu dari lumpur kering yang beterbangan di area bencana. Kondisi udara yang tercemar ini membuat pengungsi lebih mudah mengalami iritasi saluran napas. Karena itu, setiap kunjungan, petugas selalu memberi edukasi tentang pola hidup bersih dan cara mencegah ISPA.
Yati menyoroti kebiasaan pengungsi yang masih kurang mengonsumsi air putih, walaupun persediaan air mineral tersedia di posko. Ia menegaskan pentingnya minum cukup, beristirahat, serta makan buah dan sayur untuk menjaga daya tahan tubuh.
“Masker yang sudah dibagikan juga harus tetap dipakai untuk mengurangi paparan debu,” pesannya.
Tidak hanya ISPA, kasus penyakit kulit juga meningkat seiring rusaknya jaringan air PDAM. Banyak warga terpaksa memakai air dari sumur atau sungai yang tidak sepenuhnya layak. Air yang keruh dan kotor, menurut Yati, bisa memicu infeksi kulit sehingga warga diimbau menyaring air sebelum digunakan.
Dinkes berharap suplai air bersih segera pulih agar risiko penularan penyakit bisa ditekan.
Hingga kini, lebih dari 14.000 orang masih tinggal di tempat pengungsian, sementara sejumlah daerah—seperti Tabiang Banda Gadang, Gurun Laweh, Batu Busuak, Guo, dan Lubuk Minturun termasuk lokasi dengan kerusakan terparah dan akses air bersih paling terbatas.









