pro1.id, MARTAPURA – Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Banjar turut berdampak pada sektor pendidikan. Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Banjar mencatat sedikitnya 210 sekolah terdampak, dengan kondisi genangan mulai dari halaman sekolah hingga merendam ruang kelas.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 41 sekolah mengalami dampak cukup berat, sementara sekolah lainnya masih terdampak genangan di lingkungan bangunan. Situasi ini menyebabkan sebagian sekolah belum dapat melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka seperti biasa.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar, Liana Penny, menjelaskan bahwa secara umum aktivitas pembelajaran sudah kembali berjalan sejak Selasa. Namun, Disdik memberikan kebijakan fleksibel bagi sekolah-sekolah yang terdampak banjir.
“Untuk sekolah yang masih terdampak, kami beri kelonggaran dengan menerapkan pembelajaran jarak jauh. Kebijakan ini sudah kami sampaikan melalui surat edaran sesuai arahan Kementerian Pendidikan,” ujarnya usai mengikuti Rapat Koordinator siaga bencana dan penanganan bencana di Aula Barakat Lantai 2, Selasa (6/1/2026).
Ia menambahkan, penerapan pembelajaran jarak jauh bukan hal baru bagi sekolah di Kabupaten Banjar. Pengalaman selama pandemi COVID-19 serta kejadian banjir pada tahun-tahun sebelumnya menjadi modal penting dalam menyesuaikan metode pembelajaran.
“Sekolah sudah cukup terbiasa. Target pembelajaran dan evaluasi bisa disesuaikan dengan kondisi. Tidak harus terpaku pada standar nasional sepenuhnya, yang penting proses belajar tetap berlangsung,” jelasnya.
Disdik Banjar juga berencana melakukan pendataan ulang terhadap kerusakan fasilitas pendidikan setelah kondisi banjir mulai membaik. Pendataan mencakup kerusakan bangunan sekolah maupun sarana dan prasarana pendukung lainnya. Koordinasi pun telah dilakukan dengan Kementerian Pendidikan melalui Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Kalimantan Selatan.
“Data tersebut nantinya akan menjadi dasar pengajuan revitalisasi sekolah dan bantuan sarana prasarana,” katanya.
Liana juga menyoroti bahwa banjir hampir setiap tahun berdampak pada dunia pendidikan di Kabupaten Banjar. Menurutnya, penanganan jangka panjang tidak cukup hanya dengan memperbaiki bangunan sekolah.
“Kalau hanya sekolah, mungkin bisa ditinggikan lantai atau halamannya. Tapi karena banjir ini luas dan berulang, pembenahan lingkungan secara menyeluruh juga perlu mendapat perhatian,” pungkasnya.









