Kolam Baru Diisi Pemilik, Helikopter Water Bombing BNPB Gunakan Air Untuk Karhulta : Warga Cindai Alus Pertanyakan Koordinasi

- Penulis

Kamis, 27 Agustus 2026 - 18:23 WITA

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

pro1.id, BANJAR — Di tengah perjuangan memadamkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Banjar, persoalan sumber air turut menjadi perhatian. Sebuah kolam ikan milik warga di Desa Cindai Alus, Kecamatan Martapura, digunakan helikopter water bombing BNPB untuk mengambil air. Namun, pemilik kolam mengaku tidak pernah mendapat pemberitahuan sebelumnya.

H Ahmad Jailani mengatakan, helikopter mengambil air dari kolam miliknya berkali-kali pada Kamis (27/8/2026) sekitar pukul 12.00 WITA. Dalam pengamatannya, pengambilan air berlangsung hingga sekitar 14 kali.

Ahmad mengaku sempat memberikan isyarat agar helikopter tidak mengambil air dari kolam tersebut. Namun, pengambilan air tetap berlangsung.

“Kami melihat helikopter mengambil air dari kolam sekitar jam 12 siang. Kurang lebih sampai 14 kali. Saat pertama kali mengambil sudah kami beri isyarat dan melarang, tetapi tetap dilakukan,” ujar Ahmad.

Yang membuat Ahmad semakin keberatan, kondisi kolam tersebut sebenarnya sedang dalam proses pengisian air. Ia mengaku telah mengeluarkan biaya besar untuk menjaga ikan tetap hidup selama musim kemarau.

Baca Juga :  Wisata Susur Sungai Pekauman Ulu Jadi Destinasi Baru, Dorong Ekonomi dan Pariwisata Desa di Kabupaten Banjar

Bukan tanpa alasan. Kolam tersebut merupakan bagian dari usaha pemancingan yang telah dikelolanya sejak 2010. Untuk menambah air, Ahmad bahkan harus berkali-kali mendatangkan air menggunakan kendaraan.

“Kami baru saja mengisi kolam. Hampir 100 kali bolak-balik melangsir air, sekali langsir sekitar Rp600 ribu,” jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, Ahmad memperkirakan biaya yang telah dikeluarkan untuk mendatangkan air tidak sedikit. Setelah air kembali diambil untuk kebutuhan water bombing, ketinggian kolam pun kembali turun.

Ahmad menyebut dirinya memahami situasi Karhutla yang membutuhkan penanganan cepat. Ia juga tidak menolak penggunaan air untuk membantu pemadaman. Namun, menurutnya, kondisi darurat seharusnya tidak menghilangkan komunikasi dengan masyarakat yang sumber airnya digunakan.

“Kalau memang untuk pemadaman karhutla, kami mendukung. Tapi seharusnya ada komunikasi dulu dengan pemilik, karena ini juga ada usaha yang harus dipertahankan,” katanya.

Ia khawatir berkurangnya volume air berdampak terhadap kondisi ikan di dalam kolam. Sebab, kolam tersebut memiliki luas sekitar 30 borongan dengan jumlah ikan yang diperkirakan mencapai dua ton.

Baca Juga :  BPBD Banjar Salurkan Dana Bantuan bagi Korban Angin Kencang di Dua Desa

“Ini bukan kolam biasa. Luasnya sekitar 30 borongan dan ikan yang ada sekitar dua ton. Kalau air berkurang, ikan bisa terganggu,” ungkap Ahmad.

Menurutnya, kondisi ikan yang stres akibat perubahan air dapat berpengaruh terhadap usaha pemancingan yang selama ini menjadi sumber penghidupannya.

Karena itu, Ahmad meminta adanya penjelasan mengenai prosedur penggunaan sumber air milik warga dalam operasi water bombing. Ia ingin mengetahui siapa yang menentukan lokasi pengambilan air serta bagaimana mekanisme pertanggungjawaban jika pemanfaatan tersebut menimbulkan kerugian bagi pemilik.

“Air ini kami dapat dengan biaya sendiri. Kalau kemudian berkurang dan berdampak ke usaha, siapa yang bertanggung jawab?” pungkasnya.

Persoalan tersebut menjadi gambaran lain di tengah penanganan Karhutla. Ketika petugas membutuhkan sumber air untuk mempercepat pemadaman, di sisi lain ada warga yang juga harus mempertahankan ketersediaan air untuk usaha dan kebutuhan ekonominya. Koordinasi dinilai menjadi penting agar penanganan bencana tetap berjalan tanpa mengabaikan kepentingan masyarakat.

Berita Terkait

Posbindu Lansia hingga Posyandu Remaja di Tunggul Irang Ilir Berikan Layanan Kesehatan Gratis
BLT Tahap 10 Desa Tunggul Irang Ilir Disalurkan kepada Enam Penerima Manfaat
Pambakal Kuin Besar Ikuti Bimtek Awal Masa Jabatan Periode Kedua
Evaluasi APBDes Perubahan 2026, Pemdes Tambak Anyar Ulu Sesuaikan Anggaran dengan Kebutuhan Desa
Posyandu Melati Rampah Layani Sekitar 70 Warga, Pemeriksaan Kesehatan Diberikan Gratis
Dahan Pohon Menjuntai ke Jalan, DPRKPLH Banjar Lakukan Pemangkasan di Tambak Anyar Ulu
Pria di Karang Intan Tewas Diduga Dianiaya, Polisi Amankan Sejumlah Barang Bukti
Pemkab dan Polres Banjar Serahkan Bantuan Alsintan, Dukung Target Tanam Jagung 150 Hektare

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 06:35 WITA

Posbindu Lansia hingga Posyandu Remaja di Tunggul Irang Ilir Berikan Layanan Kesehatan Gratis

Kamis, 22 Oktober 2026 - 06:28 WITA

BLT Tahap 10 Desa Tunggul Irang Ilir Disalurkan kepada Enam Penerima Manfaat

Rabu, 21 Oktober 2026 - 16:01 WITA

Pambakal Kuin Besar Ikuti Bimtek Awal Masa Jabatan Periode Kedua

Rabu, 21 Oktober 2026 - 15:03 WITA

Evaluasi APBDes Perubahan 2026, Pemdes Tambak Anyar Ulu Sesuaikan Anggaran dengan Kebutuhan Desa

Rabu, 21 Oktober 2026 - 14:39 WITA

Dahan Pohon Menjuntai ke Jalan, DPRKPLH Banjar Lakukan Pemangkasan di Tambak Anyar Ulu

Berita Terbaru

Kabupaten Banjar

Pambakal Kuin Besar Ikuti Bimtek Awal Masa Jabatan Periode Kedua

Rabu, 21 Okt 2026 - 16:01 WITA