Harga Pakan Terus Naik, Harga Telur Anjlok, Peternak Ayam Petelur di Banjar Keluhkan Kondisi Pasar

- Penulis

Minggu, 8 November 2026 - 09:31 WITA

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

pro1.id, MARTAPURA – Peternak ayam petelur di Kabupaten Banjar mengeluhkan kenaikan harga pakan yang terus terjadi, sementara harga jual telur justru mengalami penurunan. Kondisi tersebut membuat harga telur di tingkat peternak berada di bawah harga pokok produksi (HPP).

Salah seorang peternak ayam petelur di Kabupaten Banjar, Boma, saat ditemui pada Minggu (8/11/2026), mengatakan kenaikan harga pakan terjadi berulang kali dalam beberapa waktu terakhir. Di sisi lain, harga telur di pasaran mengalami penurunan sehingga hasil penjualan tidak sebanding dengan biaya produksi yang harus dikeluarkan.

Menurut Boma, kenaikan harga pakan jadi dari pabrikan terjadi beberapa kali. Harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp8.400 hingga Rp8.450 per kilogram, kemudian naik secara bertahap hingga mencapai sekitar Rp8.700 per kilogram.

Ia mengaku tidak mengetahui secara terperinci kenaikan masing-masing bahan baku pakan. Namun, dampaknya langsung dirasakan peternak karena harga pakan jadi terus meningkat, sedangkan harga telur justru melemah.

“Pakan sudah naik cukup tinggi, sedangkan harga telur justru anjlok. Sekarang harganya sudah berada di bawah modal yang kami keluarkan untuk produksi,” ungkap Boma, Minggu (8/11/2026).

Keluhan serupa disampaikan peternak ayam petelur lainnya di Kabupaten Banjar, Tommy. Dalam keterangannya pada Minggu (8/11/2026), ia menyebutkan kenaikan harga pakan jadi secara keseluruhan diperkirakan mencapai Rp1.500 hingga Rp2.000 per kilogram dibandingkan harga sebelumnya.

Sementara itu, harga telur mengalami penurunan dalam kurun waktu sekitar tujuh bulan terakhir. Tommy menyebutkan, HPP telur sekitar tujuh bulan lalu berada di angka Rp29.500 per kilogram. Kini, harga jual telur di tingkat peternak hanya sekitar Rp24.000 per kilogram.

“Semua harga bahan baku pakan naik, sementara harga telur justru turun. Harga pakan jadi sudah naik sekitar Rp1.500 sampai Rp2.000 per kilogram, sedangkan harga telur sekarang sekitar Rp24 ribu per kilogram,” kata Tommy.

Selain kenaikan biaya produksi dan turunnya harga jual, peternak lokal juga menyoroti banyaknya pasokan telur dari luar daerah, khususnya Pulau Jawa, yang masuk ke pasar Kalimantan Selatan.

Boma menilai masuknya telur dari Jawa turut memengaruhi penjualan peternak lokal. Menurutnya, harga telur dari daerah tersebut relatif lebih murah sehingga dapat dipasarkan dengan harga lebih rendah dibandingkan telur produksi peternak setempat.

Padahal, ia menyebut kapasitas produksi peternak di Kalimantan Selatan sebenarnya sudah mampu memenuhi kebutuhan telur di daerah sendiri. Bahkan, sejumlah peternakan berskala besar masih dapat memasok telur ke wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Baca Juga :  Pelaku Pembunuhan di Tambang Emas Aranio Kabur ke Hutan, Lima Hari Kemudian Menyerahkan Diri

Namun, kondisi pasar saat ini membuat persaingan semakin berat. Pasokan dari luar daerah yang terus masuk di tengah melemahnya harga telur dikhawatirkan semakin menekan harga jual telur peternak lokal.

Boma mengatakan persoalan tersebut telah beberapa kali disampaikan melalui audiensi dengan Dinas Peternakan tingkat provinsi, Dinas Perdagangan, serta DPRD Provinsi Kalimantan Selatan. Peternak juga telah melibatkan media untuk menyuarakan kondisi yang mereka hadapi.

Meski demikian, hingga saat ini mereka menilai belum ada hasil konkret yang mampu menyelesaikan persoalan harga maupun masuknya telur dari luar daerah. Peternak berharap pemerintah dapat mencari solusi untuk menjaga keseimbangan pasokan dan keberlangsungan usaha peternakan lokal.

Berdasarkan yang dikutif dari Ditjen PKH Kementan RI, pada di tingkat pusat, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebelumnya telah mengambil sejumlah langkah untuk menjaga kestabilan harga telur. Kebijakan tersebut disampaikan setelah audiensi dengan sejumlah perwakilan peternak ayam petelur di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, pada Senin (9/6/2026).

Dalam pertemuan tersebut, pemerintah memutuskan memperkuat pengawasan terhadap penerapan Harga Acuan Pembelian (HAP) telur di tingkat peternak sebesar Rp26.500 per kilogram. Pengawasan dilakukan dengan melibatkan Satgas Pangan agar pembelian telur tidak dilakukan di bawah harga acuan.

Ketua Pinsar Petelur Nasional, Yudianto Yosgiarso, yang menyampaikan keterangannya usai audiensi pada Senin (9/6/2026), mengapresiasi keputusan Menteri Pertanian tersebut. Ia menilai kebijakan itu dapat membantu menjaga keberlangsungan usaha peternak rakyat.

“Kami mengucapkan apresiasi yang setinggi-tingginya dan terima kasih kepada Bapak Menteri Pertanian yang hari ini telah memutuskan beberapa hal penting. Ini sangat membantu untuk kelangsungan hidup peternak,” kata Yudianto.

Ia juga menyebutkan surat terkait penegakan HAP telah ditembuskan kepada Satgas Pangan. Yudianto berharap pedagang dan pengusaha ritel mematuhi ketentuan harga tersebut.

“Kami mengimbau seluruh pedagang dan pengusaha ritel untuk membantu kami dan menaati apa yang sudah disampaikan Bapak Menteri. Apabila setelah hari ini masih terjadi pembelian telur di bawah Rp26.500, peternak dapat segera melaporkannya kepada Badan Pangan Nasional,” ujarnya.

Selain pengawasan harga, dalam audiensi yang sama pada 9 Juni 2026, pemerintah juga mendorong peningkatan penyerapan telur oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Penyerapan yang sebelumnya dilakukan satu kali dalam sepekan ditingkatkan menjadi tiga kali dalam sepekan.

Baca Juga :  Puluhan Bollard di Banjarbaru Raib Diduga Dicuri, Pemkot Siapkan Sistem Pengamanan Baru

“BGN juga akan menyerap telur dari peternak, dari yang sebelumnya seminggu sekali menjadi tiga kali. Ini sangat membantu kami,” kata Yudianto.

Pemerintah juga menyiapkan dukungan distribusi untuk mengalirkan kelebihan produksi telur dari daerah sentra peternakan ke wilayah yang bukan merupakan sentra ayam petelur. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi penumpukan pasokan di daerah produksi.

Koordinator Rumah Kebersamaan Peternak Layer Mandiri BKTNT Blitar, Kediri, Tulungagung, Malang, dan Trenggalek, Eti Marlina, turut menyampaikan apresiasi atas keputusan tersebut. Dalam keterangannya setelah audiensi pada Senin (9/6/2026), ia mengatakan aspirasi peternak telah mendapat perhatian pemerintah.

“Alhamdulillah apa yang disampaikan teman-teman peternak sudah diakomodir dengan baik oleh Pak Mentan. Pak Mentan memang pro peternak rakyat,” ujarnya.

Eti menjelaskan, pemerintah juga akan membantu menyalurkan kelebihan produksi telur dari daerah sentra seperti Blitar ke wilayah yang bukan sentra ayam petelur.

“Menteri Pertanian bersama Pak Dirjen dan stafnya akan membantu menyalurkan produksi telur yang surplus ke daerah-daerah yang bukan sentral ayam petelur atau yang kita ketahui sebagai zona merah,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman juga menyampaikan bahwa pemerintah telah mengambil sejumlah langkah untuk memperbaiki harga telur yang mengalami penurunan. Ia mengapresiasi kemampuan peternak ayam petelur dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, bahkan menghasilkan surplus produksi.

“Kami ucapkan terima kasih kepada saudara-saudara kita peternak petelur seluruh Indonesia yang hadir menemui kami meminta kebijakan-kebijakan yang bisa memperbaiki harga telur yang turun. Saya apresiasi, saya bangga dengan peternak petelur seluruh Indonesia mampu memenuhi kebutuhan anak bangsa, surplus bahkan ekspor ke negara lain,” ungkap Amran pada Senin (9/6/2026).

Kebijakan pemerintah pusat tersebut diharapkan dapat memberikan dampak hingga ke daerah, termasuk Kalimantan Selatan. Peternak di Kabupaten Banjar berharap pengawasan HAP, peningkatan penyerapan telur, serta pengaturan distribusi juga dapat dirasakan oleh peternak lokal.

Dengan harga jual telur yang saat ini disebut berada di kisaran Rp24.000 per kilogram, sementara HAP di tingkat peternak ditetapkan Rp26.500 per kilogram, peternak berharap ada perhatian dan tindak lanjut dari pemerintah daerah maupun instansi terkait agar kebijakan pusat dapat berjalan efektif di lapangan.

Berita Terkait

Warga Rampah Antusias Ikuti Pengobatan Gratis, Pemdes Apresiasi Pelayanan Puskesmas Telaga Bauntung
Disdik Banjar Lanjutkan Pembangunan Lima Ruang Kelas SDN Cindai Alus 1, Keselamatan Siswa Jadi Perhatian
Bupati Banjar Titip Perawatan Jembatan Merah Putih kepada Warga Sungai Tuan Ilir
Padat Karya Tunai di Tunggul Irang Ilir Libatkan 58 Warga, Perkuat Semangat Gotong Royong
Resmikan Jembatan Merah Putih di Astambul, Kapolda Kalsel Dorong Penguatan Akses dan Kedekatan dengan Masyarakat
Bupati Banjar Buka Latsar Satpol PP 2026, 101 Peserta Ikuti Pelatihan Selama 11 Hari
Dua Mesin BPK Mahligai Rusak Saat Tangani Karhutla, Bantuan Pemkab Banjar Jadi Dukungan bagi Relawan
Pemkab Banjar Salurkan Bantuan Peralatan Pemadam untuk 75 BPK, Perkuat Penanganan Karhutla

Berita Terkait

Minggu, 8 November 2026 - 13:24 WITA

Warga Rampah Antusias Ikuti Pengobatan Gratis, Pemdes Apresiasi Pelayanan Puskesmas Telaga Bauntung

Kamis, 5 November 2026 - 15:16 WITA

Disdik Banjar Lanjutkan Pembangunan Lima Ruang Kelas SDN Cindai Alus 1, Keselamatan Siswa Jadi Perhatian

Rabu, 4 November 2026 - 14:13 WITA

Bupati Banjar Titip Perawatan Jembatan Merah Putih kepada Warga Sungai Tuan Ilir

Rabu, 4 November 2026 - 11:35 WITA

Padat Karya Tunai di Tunggul Irang Ilir Libatkan 58 Warga, Perkuat Semangat Gotong Royong

Rabu, 4 November 2026 - 11:17 WITA

Resmikan Jembatan Merah Putih di Astambul, Kapolda Kalsel Dorong Penguatan Akses dan Kedekatan dengan Masyarakat

Berita Terbaru

Kabupaten Barito Kuala

Helikopter Water Bombing Jatuh di Sungai Barito, Tiga Kru Dilaporkan Selamat

Minggu, 8 Nov 2026 - 14:08 WITA