Jalan Desa Legai Batu Sopang: Infrastruktur yang Hilang dari Prioritas Daerah?

- Penulis

Minggu, 8 Februari 2026 - 11:06 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(FOTO : KANDILO.COM)

(FOTO : KANDILO.COM)

pro1.id, TANAH GROGOT – Pemerintah kabupaten secara normatif memikul kewajiban utama dalam penyediaan infrastruktur dasar. Tanggung jawab tersebut melekat pada kepala daerah sebagai pemegang mandat pembangunan. Namun realitas di Desa Legai, Kecamatan Batu Sopang, justru memperlihatkan ironi kebijakan di Kabupaten Paser pada masa kepemimpinan Bupati Fahmi Fadly.

Ruas jalan Desa Legai sepanjang sekitar 15 kilometer—yang secara administratif tercatat sebagai jalan kabupaten—telah bertahun-tahun berada dalam kondisi rusak parah. Keadaan ini tidak hanya menghambat aktivitas warga, tetapi juga memutus kelancaran distribusi hasil pertanian, membatasi akses pendidikan, serta menyulitkan layanan kesehatan. Anehnya, kerusakan berkepanjangan tersebut seolah tidak pernah benar-benar hadir dalam agenda prioritas pembangunan daerah.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius: apakah ruas jalan Desa Legai masih diakui sebagai bagian dari jaringan jalan kabupaten, ataukah secara diam-diam telah tersingkir dari peta perhatian pemerintah?

Baca Juga :  Pemkab Paser Tegaskan Reformasi ASN Melalui Partisipasi pada Rakornas Kepegawaian 2025

Minimnya respons tidak hanya datang dari jajaran eksekutif. DPRD Kabupaten Paser, yang sejatinya menjadi corong aspirasi masyarakat sekaligus pengawas kebijakan, juga belum menunjukkan langkah nyata untuk memperjuangkan perbaikan jalan tersebut. Baik melalui mekanisme penganggaran maupun dorongan politik kebijakan, upaya yang diharapkan masyarakat tak kunjung terlihat.

Situasi ini akhirnya mendorong Kepala Desa Legai, Saparudin, mengambil langkah yang tidak lazim dalam praktik pemerintahan. Bersama warga, ia menggalang dana swadaya untuk memperbaiki jalan sekadarnya. Bukan solusi ideal, tetapi langkah darurat agar roda kehidupan desa tetap berputar.

Aksi gotong royong tersebut kemudian berkembang menjadi bentuk protes yang sunyi namun sarat makna. Tidak ada teriakan atau poster tuntutan—yang ada hanyalah warga desa menambal jalan dengan alat dan kemampuan seadanya. Sebuah isyarat kuat bahwa ketika negara tidak hadir, masyarakat terpaksa mengisi kekosongan itu sendiri.

Baca Juga :  Mudik Lebaran 2026, PT Pelayaran Nasional Indonesia Tambah Armada di Balikpapan

Upaya konfirmasi yang dilakukan media Kandilo.com kepada Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemkab Paser, Kadir Sambolangi, terkait respons pemerintah daerah atas aksi warga, menghasilkan jawaban singkat: belum ada tindak lanjut. Pernyataan ini kian menegaskan jarak antara kebutuhan riil masyarakat desa dan sensitivitas kebijakan pemerintah.

Peristiwa di Desa Legai sesungguhnya melampaui persoalan jalan rusak. Ia mencerminkan problem mendasar dalam prioritas pembangunan daerah—ketika kewajiban negara perlahan bergeser menjadi beban warga.

Selama suara desa terus berada di pinggir meja kebijakan, pembangunan akan tetap berhenti pada tataran slogan. Dalam konteks ini, publik berhak mempertanyakan makna program Paser Tuntas yang kerap digaungkan.

Apakah “tuntas” masih menyimpan harapan bagi masyarakat desa, atau sekadar kata indah yang belum menemukan wujudnya di kehidupan sehari-hari warga? (SUMBER KUTIP : KANDILO.COM)

Berita Terkait

Tragedi Kebakaran Subuh di Tanah Grogot, Dua Penghuni Tak Terselamatkan
Klinik di Long Ikis Terbakar, Diduga Akibat Korsleting Listrik
Tiga Bangunan Terbakar di Tanah Grogot, Kerugian Diperkirakan Capai Rp1 Miliar
Korban Tenggelam di Pantai Buradaya Ditemukan, Pencarian Libatkan Tim Gabungan
Salat Idulfitri di Masjid Besar Nurul Falah Long Ikis Berlangsung Khidmat dan Meriah
Sejarah dan Perkembangan Desa Pait, Kecamatan Long Ikis, Kabupaten Paser
Jelang Idul Fitri, BNK Paser Gelar Tes Urin Sopir Angkutan Umum
Disbunnak Paser Pastikan Stok Daging Jelang Idulfitri Aman, Harga di Pasar Sekitar Rp160 Ribu per Kilogram
Berita ini 24 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 1 April 2026 - 13:33 WITA

Tragedi Kebakaran Subuh di Tanah Grogot, Dua Penghuni Tak Terselamatkan

Kamis, 26 Maret 2026 - 17:03 WITA

Klinik di Long Ikis Terbakar, Diduga Akibat Korsleting Listrik

Rabu, 25 Maret 2026 - 12:22 WITA

Tiga Bangunan Terbakar di Tanah Grogot, Kerugian Diperkirakan Capai Rp1 Miliar

Rabu, 25 Maret 2026 - 12:15 WITA

Korban Tenggelam di Pantai Buradaya Ditemukan, Pencarian Libatkan Tim Gabungan

Sabtu, 21 Maret 2026 - 08:19 WITA

Salat Idulfitri di Masjid Besar Nurul Falah Long Ikis Berlangsung Khidmat dan Meriah

Berita Terbaru

Kabupaten Banjar

Polres Banjar Renovasi Rumah Lansia di Paramasan, Wujud Kepedulian Sosial

Kamis, 30 Apr 2026 - 11:56 WITA