pro1.id, MARTAPURA – Insiden dugaan keracunan makanan massal kembali menjadi perhatian publik di Kabupaten Banjar. Sebanyak 134 siswa dari delapan sekolah dilaporkan mengalami gejala sakit setelah menyantap makanan yang disediakan melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Kamis (9/10/2025).
Program tersebut dikelola oleh SPPG Tungkaran, yang selama ini menjadi salah satu dapur penyedia makanan bagi ribuan pelajar penerima manfaat MBG di wilayah Martapura.
Menurut laporan yang dihimpun, para siswa dari sejumlah sekolah Islam dan negeri, termasuk MI dan MTs Assalam, SDN Pesayanga 1, SDN Tungkaran, serta SMAN 1 Martapura, mulai mengeluh mual dan muntah beberapa jam setelah jam makan siang. Mereka kemudian mendapatkan perawatan di RSUD Ratu Zalecha Martapura.
Sekretaris Satgas Program Percepatan MBG Kabupaten Banjar, Sipliansyah Hartani, memastikan seluruh siswa yang terdampak telah mendapatkan penanganan medis.
“Total ada sekitar 134 anak yang sempat mengalami gejala, namun semuanya sudah tertangani dengan baik,” ujarnya.
Kandungan Nitrat di Dua Jenis Makanan
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar menunjukkan adanya kandungan nitrat pada dua menu makanan, yakni nasi dan sayur. Unsur kimia tersebut, jika dikonsumsi dalam kadar tinggi, dapat menimbulkan gangguan pada sistem pencernaan.
“Dugaan awal kami, ada kemungkinan kontaminasi terjadi di tahap distribusi, bukan saat proses memasak di dapur,” kata Sipliansyah menjelaskan.
Dapur Ditutup untuk Investigasi
Paska kejadian, dapur produksi milik Yayasan Griya Rizki Babussalam yang biasa melayani sekitar 2.400 penerima MBG sementara dihentikan operasinya. Langkah itu diambil untuk memberi ruang bagi tim gabungan dari BPOM, Dinas Kesehatan, dan pihak berwenang lainnya melakukan pemeriksaan menyeluruh.
Berdasarkan keterangan Satgas, makanan mulai diolah sejak dini hari dan didistribusikan ke sekolah-sekolah antara pukul 07.00 hingga 12.00 WITA. Sekitar dua jam kemudian, muncul laporan pertama mengenai perubahan aroma pada menu yang dibagikan, disusul keluhan mual dari sejumlah siswa.
Klarifikasi dan Evaluasi Program
Menepis anggapan kelalaian, Sipliansyah menegaskan bahwa peristiwa tersebut lebih tepat disebut musibah.
“Tidak semua makanan dan penerima terdampak. Berdasarkan hasil uji, hanya sebagian kecil yang menunjukkan tanda kontaminasi,” jelasnya.
Untuk memulihkan kepercayaan publik terhadap program MBG, pihak Satgas berencana melakukan uji coba makan bersama siswa di beberapa sekolah. Langkah ini sekaligus menjadi simbol transparansi dan komitmen memperketat pengawasan.
“Kami akan menunjuk petugas khusus untuk mencicipi makanan sebelum didistribusikan, menggantikan peran guru seperti sebelumnya,” tambahnya.
Pemerintah Kabupaten Banjar memastikan seluruh biaya pengobatan korban ditanggung, serta menginstruksikan evaluasi total terhadap seluruh dapur MBG — mulai dari kebersihan peralatan, kualitas bahan baku, hingga rantai distribusi.
Selain itu, Satgas MBG juga berkoordinasi dengan BGN Pusat untuk menentukan langkah penegakan sanksi terhadap pihak pengelola dapur apabila ditemukan pelanggaran teknis dalam proses produksi.
“Fokus kami adalah memastikan keamanan pangan bagi anak-anak. Setiap celah kelemahan akan segera diperbaiki,” tutup Sipliansyah.









