pro1.id, MARTAPURA – Kasus warga diserang monyet liar kembali muncul di Kabupaten Banjar. Dinas Kesehatan setempat melaporkan ada 11 korban hingga hari ini—lima berasal dari Kecamatan Aluh-Aluh dan enam lainnya dari Kecamatan Beruntung Baru. Data ini dihimpun oleh Tim Pengelola Zoonosis Dinkes Banjar.
Untuk menindaklanjuti laporan tersebut, Pemerintah Kabupaten Banjar menggelar rapat koordinasi lintas sektor. Kepala DPKP Banjar, Agus Siswanto, menyampaikan bahwa pertemuan itu melibatkan DPKP, BKSDA, Dinas Pertanian (Keswan), Dinas Kesehatan, aparat keamanan, relawan animal rescue, serta perwakilan kecamatan dan desa di dua wilayah terdampak.
Camat Aluh-Aluh, Aditya Yudi Dharma, mengungkapkan bahwa rapat sebenarnya telah direncanakan sejak awal pekan namun baru terlaksana pada Rabu (3/12/2025) karena kesibukan berbagai instansi. Menjelang pertemuan, muncul lagi satu laporan korban baru di Beruntung Baru.
Merespons laporan tersebut, petugas dan relawan melakukan penyisiran dari titik kejadian hingga wilayah perbatasan. Dari upaya itu, seekor monyet berhasil ditangkap.
“Satu ekor sudah kami amankan dan sampelnya dikirim ke Dinas Peternakan untuk diuji kemungkinan rabies. Namun belum bisa dipastikan apakah ini hewan yang menyerang warga,” ujar Aditya saat dihubungi.
Ia menambahkan bahwa rapat tetap digelar untuk memperkuat koordinasi dan menyampaikan imbauan agar masyarakat segera melapor jika insiden terulang.
Aditya juga menjelaskan bahwa populasi monyet di kawasan tersebut sebenarnya normal karena habitatnya berada di hutan rambai dekat pesisir. Umumnya, mereka masuk ke permukiman hanya untuk mencari sumber makanan.
“Biasanya mereka hanya masuk dapur warga kalau ada makanan. Tidak sampai bersikap agresif,” katanya.
Namun belakangan ini, perilaku monyet tersebut berubah. Hewan yang diduga pelaku serangan disebut masuk ke rumah warga dan langsung menyerang tanpa provokasi.
“Luka korban menunjukkan pola serangan langsung. Dugaan kami hanya ada satu ekor yang agresif. Monyet lain tidak menunjukkan tanda membahayakan,” ujarnya.
Seluruh korban sudah mendapatkan vaksin dari puskesmas sebagai upaya pencegahan rabies. Sementara itu, monyet yang ditangkap saat ini menjalani pemeriksaan laboratorium.
Untuk langkah jangka panjang, pemerintah menunggu hasil rapat lintas sektor sebelum memutuskan tindakan lanjutan. Aditya memastikan opsi pemusnahan populasi tidak dipertimbangkan karena satwa tersebut berada di habitat aslinya dan selama ini tidak menimbulkan masalah.
“Selama ini aman saja. Masyarakat dan satwa bisa hidup berdampingan,” ungkapnya.
Ia berharap warga tetap tenang dan tidak melakukan tindakan yang dapat memicu perilaku agresif satwa liar.
“Jangan diganggu, jangan diberi makan. Jika ada korban baru, segera ke puskesmas agar cepat ditangani. Semoga monyet yang diamankan memang pelakunya sehingga insiden berhenti,” tutupnya.









