pro1.id, BANJARBARU – Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru mencatat sebanyak 56 kasus suspek campak hingga akhir Maret 2026. Kondisi ini mendorong percepatan program imunisasi guna menekan potensi penyebaran penyakit di masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan Banjarbaru, Juhai Triyanti Agustina, mengungkapkan dari total kasus tersebut, sebagian telah melalui pemeriksaan laboratorium untuk memastikan statusnya.
“Dari 41 sampel yang diperiksa, 25 dinyatakan negatif, dua kasus terkonfirmasi positif campak, dan satu kasus positif rubella,” ujarnya.
Ia menambahkan, temuan ini menjadi perhatian serius karena campak dan rubella merupakan penyakit menular yang berisiko tinggi, khususnya pada anak-anak dengan imunisasi yang belum lengkap.
“Ini yang harus kita kejar, terutama anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi secara lengkap,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Banjarbaru mengintensifkan pelaksanaan imunisasi melalui program Penari atau Sepekan Mengejar Imunisasi yang digelar pada 6 hingga 12 April 2026.
Program tersebut difokuskan untuk mengejar ketertinggalan cakupan imunisasi di berbagai kelompok usia, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya vaksinasi.
“Target kita minimal 95 persen cakupan imunisasi, bahkan kalau bisa mencapai 100 persen,” tegas Juhai Triyanti Agustina.
Ia juga memastikan ketersediaan vaksin dalam kondisi aman dan mencukupi, baik dari stok daerah maupun dukungan dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan.
Selama program berlangsung, layanan imunisasi dibuka di seluruh puskesmas di Banjarbaru dan diperkuat melalui pelayanan di posyandu yang tersebar di berbagai wilayah.
“Silakan masyarakat datang ke puskesmas atau posyandu terdekat untuk melengkapi imunisasi,” imbaunya.
Melalui upaya ini, Dinkes Banjarbaru berharap cakupan imunisasi dapat meningkat signifikan sehingga risiko penyebaran campak dan rubella bisa ditekan secara optimal.









