pro1.id, MARTAPURA – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi salah satu kondisi yang mendapat perhatian di tengah munculnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kabupaten Banjar. Di RSUD Ratu Zalecha Martapura, tiga anak saat ini menjalani perawatan inap dengan diagnosis ISPA.
Humas RSUD Ratu Zalecha, Rodi, mengatakan ketiga pasien tersebut seluruhnya merupakan anak-anak. Dua pasien masing-masing berusia 5 tahun dan 2 tahun, sementara satu pasien lainnya berusia 6 tahun dengan diagnosis ISPA yang disertai bronkopneumonia.
“Per hari ini ada tiga kasus ISPA yang dirawat inap dan semuanya anak-anak. Dua kasus ISPA, kemudian satu ISPA ditambah bronkopneumonia,” ujar Rodi, Rabu (2/09/2026).
Dua pasien ISPA diketahui berasal dari wilayah Sekumpul dan Sungai Pinang. Sementara pasien berusia 6 tahun yang mengalami ISPA disertai bronkopneumonia berasal dari Kecamatan Karang Intan.
Rodi menjelaskan, tidak seluruh pasien dengan ISPA harus menjalani rawat inap di rumah sakit. Penanganan pasien disesuaikan dengan kondisi klinis dan tingkat keparahan penyakit. Kasus yang membutuhkan perawatan lebih lanjut dapat masuk melalui instalasi gawat darurat (IGD), sedangkan kasus yang tidak memerlukan rawat inap dapat ditangani melalui fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas.
Berdasarkan catatan RSUD Ratu Zalecha, sejak Juni hingga Agustus 2026 terdapat 326 kasus yang tercatat memiliki ISPA sebagai diagnosis penyerta. Khusus sepanjang Agustus, tercatat 92 kasus ISPA pada pasien anak maupun dewasa. Pada bulan yang sama, terdapat 21 kasus pneumonia yang menjalani perawatan inap.
Menurut Rodi, jumlah kasus gangguan pernapasan tersebut memang menunjukkan kecenderungan meningkat sejak pertengahan tahun dan mencapai angka lebih tinggi pada Agustus. Namun, peningkatannya masih belum tergolong signifikan.
“Kalau kita tarik dari pertengahan tahun memang ada sedikit kenaikan dan puncaknya di Agustus, cuma kenaikannya masih tidak terlalu signifikan,” katanya.
Di tengah kondisi udara yang dipengaruhi kabut asap, Rodi menyebut paparan asap dapat menjadi salah satu faktor yang berpotensi memicu atau memperburuk gangguan pada saluran pernapasan. Namun, pihak rumah sakit belum menyatakan bahwa seluruh kasus ISPA yang ditangani secara langsung disebabkan oleh kabut asap.
“Memang salah satunya bisa terjadi karena fenomena kabut asap,” ujarnya.
Karena itu, masyarakat diimbau tetap memperhatikan kondisi kesehatan, terutama anak-anak, ketika kualitas udara menurun. Apabila muncul keluhan pada saluran pernapasan dan kondisi memburuk, masyarakat disarankan segera mendapatkan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan.










