Mitos Kota Kalong Soppeng: Kalong Hilang Pertanda Bencana, Kotorannya Dipercaya Bawa Jodoh

- Penulis

Minggu, 30 Agustus 2026 - 19:14 WITA

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

pro1.id, SOPPENG, SULAWESI SELATAN – Ribuan kalong atau kelelawar pemakan buah menjadi pemandangan yang mudah dijumpai di pusat Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Keberadaan satwa tersebut bahkan menjadi bagian dari identitas daerah yang dikenal dengan julukan Kota Kalong.

Berbeda dengan habitat kelelawar yang umumnya berada di gua maupun kawasan hutan, kalong di Soppeng justru hidup di pepohonan yang berada di kawasan perkotaan. Satwa tersebut telah lama menetap dan hidup berdampingan dengan masyarakat.

Kabupaten Soppeng dengan ibu kota Watan Soppeng berjarak sekitar 160 kilometer dari Kota Makassar. Keberadaan ribuan kalong di pusat kota menjadi salah satu keunikan yang membuat daerah ini memiliki daya tarik tersendiri.

Di balik keberadaan kalong tersebut, berkembang sejumlah cerita dan kepercayaan yang diwariskan masyarakat secara turun-temurun. Salah satunya berkaitan dengan kemunculan maupun menghilangnya kalong dari pusat kota.

Menurut salah seorang warga, Andi Kancil, cerita mengenai kalong yang menetap di Soppeng telah dikenal sejak zaman dahulu.

“Dari cerita orang-orang tua, konon pada zaman dulu ada seorang Raja Soppeng yang memiliki putri yang dapat mengerti bahasa binatang,” ujarnya.

Baca Juga :  Kopi Gadis, Ruang Berbagi dan Bukti Kemandirian Perempuan Muda dari Tapin

Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, sang putri disebut menjadi perantara antara raja dan kelompok kalong. Kesepakatan tersebut kemudian dipercaya menjadi awal mula kalong memilih menetap di wilayah Soppeng.

“Lewat putri raja itulah tercipta perjanjian antara raja dan kalong bahwa jika ingin tinggal menetap di Soppeng, kelompok kalong tersebut harus memberi tahu rakyat melalui tanda-tanda alam jika ada bencana, musibah atau sesuatu yang akan terjadi,” jelas Andi Kancil.

Cerita tersebut hingga kini masih menjadi bagian dari kepercayaan sebagian masyarakat Soppeng. Salah satu mitos yang berkembang menyebutkan, jika kalong meninggalkan kawasan pusat kota selama lebih dari satu hari, kondisi tersebut dianggap sebagai pertanda akan terjadi sesuatu di daerah tersebut.

Kepercayaan itu juga dikaitkan dengan sejumlah pengalaman yang pernah diceritakan masyarakat pada masa lalu.

“Pernah di tahun 1990-an kalong di sini menghilang beberapa hari dan tidak lama setelah itu terjadi kemarau panjang dan kebakaran besar juga terjadi,” ungkapnya.

Meski demikian, kisah mengenai kalong sebagai pertanda bencana tersebut merupakan mitos atau kepercayaan yang berkembang di masyarakat, bukan kepastian mengenai akan terjadinya suatu bencana.

Baca Juga :  Temulawak Sani, Warisan Herbal 50 Tahun yang Laris Manis Saat Ramadan

Selain cerita mengenai pertanda bencana, masyarakat Kota Kalong juga memiliki mitos lain yang lebih ringan dan dekat dengan kehidupan sosial, yakni soal jodoh.

Konon, pendatang atau wisatawan yang berkunjung ke Soppeng dan secara tidak sengaja terkena kotoran kalong dipercaya akan mendapatkan jodoh dari daerah berjuluk Bumi Latemmamala tersebut.

Kepercayaan itu menjadi salah satu cerita unik yang kerap dikaitkan dengan keberadaan kalong di tengah Kota Soppeng.

Bagi masyarakat setempat, keberadaan kalong tidak hanya menjadi pemandangan yang menarik. Satwa tersebut telah menjadi bagian dari cerita lokal dan identitas Soppeng yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Di tengah aktivitas masyarakat di pusat kota, ribuan kalong tetap bergelantungan di pepohonan. Keberadaan mereka seolah menjadi gambaran unik tentang bagaimana satwa liar dapat hidup berdampingan dengan kehidupan perkotaan.

Kota Soppeng pun memiliki cerita sendiri tentang kalong-kalongnya. Dari mitos mengenai tanda bencana hingga cerita soal jodoh, semuanya menjadi bagian dari warna budaya dan kisah masyarakat yang membuat Kota Kalong memiliki daya tarik tersendiri.

Berita Terkait

Dari Sales Motor ke Mengundang Tawa, Akbar Menemukan Panggung Kedua di Dunia Stand Up Comedy
Menyusuri Pasar Tumpah Pringgodani, Oase Budaya di Timur Balikpapan yang Menghidupkan Tradisi Nusantara
Kasi Pidum Kejari Banjar Terbitkan Buku Perdana, Tawarkan Konsep Kejaksaan sebagai Kurator Negara untuk Pemulihan Hak Korban
Grand Qin Hotel Banjarbaru Luncurkan “Sahabat Vol. 2”, Sajian Kebersamaan dengan Cita Rasa Nusantara
Sejarah dan Perkembangan Desa Pait, Kecamatan Long Ikis, Kabupaten Paser
Jejak Sejarah Paser: Dari Kerajaan Sadurengas hingga Kabupaten Modern
Temulawak Sani, Warisan Herbal 50 Tahun yang Laris Manis Saat Ramadan
Sentuhan Timur Tengah Warnai Buka Puasa Perdana di Aeris Hotel Banjarbaru

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 19:14 WITA

Mitos Kota Kalong Soppeng: Kalong Hilang Pertanda Bencana, Kotorannya Dipercaya Bawa Jodoh

Rabu, 15 Juli 2026 - 18:49 WITA

Dari Sales Motor ke Mengundang Tawa, Akbar Menemukan Panggung Kedua di Dunia Stand Up Comedy

Minggu, 12 Juli 2026 - 08:53 WITA

Menyusuri Pasar Tumpah Pringgodani, Oase Budaya di Timur Balikpapan yang Menghidupkan Tradisi Nusantara

Minggu, 21 Juni 2026 - 07:30 WITA

Kasi Pidum Kejari Banjar Terbitkan Buku Perdana, Tawarkan Konsep Kejaksaan sebagai Kurator Negara untuk Pemulihan Hak Korban

Minggu, 10 Mei 2026 - 20:07 WITA

Grand Qin Hotel Banjarbaru Luncurkan “Sahabat Vol. 2”, Sajian Kebersamaan dengan Cita Rasa Nusantara

Berita Terbaru

Kabupaten Banjar

402 KPM di Keliling Benteng Ulu Terima 1.206 Karung Beras BPNT

Kamis, 3 Sep 2026 - 11:55 WITA

Kabupaten Banjar

Legalitas Tanah MBR Jadi Prioritas, 40 Warga Banjar Terima Sertifikat

Rabu, 2 Sep 2026 - 17:30 WITA