pro1.id, BANJARBARU – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin pesat tak hanya membawa kemudahan, tetapi juga mengundang kekhawatiran. Hal ini menjadi sorotan Adin Bondar, Deputi Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, dalam kegiatan Penguatan Pemberdayaan Perpustakaan yang berlangsung di Aula Gawi Sabarataan, Banjarbaru, pada Kamis (2/10/2025).

Dalam pidatonya, Adin menyampaikan bahwa penggunaan AI secara berlebihan dapat berdampak negatif terhadap kemampuan berpikir manusia, khususnya generasi muda yang tumbuh di era digital.
“Kecerdasan buatan memang membantu, namun ketergantungan yang berlebihan justru membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk menyerap dan mengolah informasi secara mandiri,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa fenomena post-truth serta polarisasi informasi di ruang digital telah menciptakan krisis literasi yang serius. Informasi yang beredar luas tanpa proses verifikasi membuat banyak orang menerima hoaks dan disinformasi sebagai kebenaran, sehingga berdampak pada penurunan kemampuan berpikir kritis.
“Kita sedang menghadapi apa yang disebut brain loop, kondisi penurunan fungsi kognitif akibat paparan informasi yang tidak tervalidasi. Ini sangat berbahaya. Maka dari itu, literasi harus ditanamkan sejak usia dini,” tegasnya.
Adin merujuk pada hasil penelitian neurologis mengenai pentingnya 1.000 hari pertama kehidupan sebagai fase emas perkembangan otak anak. Ia menekankan pentingnya pengenalan terhadap bacaan berkualitas bahkan sejak dalam kandungan, sebagai fondasi terbentuknya kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual.
“Anak-anak yang sejak dini terbiasa dengan membaca akan memiliki daya pikir yang lebih matang, dan itu menjadi bekal untuk menghadapi tantangan digital ke depan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa literasi tidak hanya berperan dalam aspek pendidikan, tetapi juga berkontribusi terhadap kesehatan kognitif jangka panjang. Aktivitas membaca secara rutin, menurutnya, dapat membantu mencegah gangguan otak seperti Alzheimer dan demensia.
“Membaca setiap hari memberi rangsangan pada sel-sel otak agar terus aktif. Ini penting untuk menjaga fungsi otak tetap optimal hingga usia lanjut,” tambahnya.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan oleh Andi, seorang warga Banjarbaru yang mengikuti perkembangan teknologi. Ia menilai bahwa penggunaan AI yang tidak diimbangi dengan literasi digital dan kemampuan berpikir kritis justru dapat menyesatkan.
“Saya sering melihat orang hanya mengandalkan jawaban AI, tanpa mengecek kembali kebenarannya. Ini berbahaya kalau dianggap sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Harus ada kesadaran untuk tetap berpikir kritis,” ungkapnya saat ditemui, Jumat (3/10/2025).
Melalui pernyataan dan diskusi yang berkembang dalam acara tersebut, semakin jelas bahwa peningkatan literasi—terutama sejak usia dini—merupakan langkah strategis untuk meminimalkan dampak negatif dari kemajuan teknologi, khususnya kecerdasan buatan.









