pro1.id, MARTAPURA – Bencana banjir yang melanda Kalimantan Selatan masih menyisakan dampak di sejumlah daerah. Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan mencatat, hingga kini terdapat empat kabupaten/kota yang masih mengalami genangan, meskipun skalanya tidak sebesar banjir besar pada 2021 lalu.

Kepala Bidang Penanganan Bencana Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Selatan, Achmadi, menyampaikan bahwa daerah yang masih terdampak meliputi Kabupaten Banjar, Kabupaten Barito Kuala, Kota Banjarmasin, serta Kabupaten Tanah Laut.
“Kalau dibandingkan dengan tahun 2021 memang jauh berbeda. Dulu ada 11 kabupaten dan kota yang terdampak. Sekarang sekitar sembilan, dan yang masih bertahan sampai hari ini ada empat daerah,” kata Achmadi, Kamis (8/1/2026).
Dari keempat wilayah tersebut, Kecamatan Kurau di Kabupaten Tanah Laut menjadi perhatian utama karena kondisi banjir yang cukup berat. Tingginya curah hujan ditambah air laut yang menahan aliran sungai menyebabkan genangan bertahan lebih lama.
“Kurau itu termasuk yang cukup parah. Tapi penanganan sudah dilakukan oleh Dinas Sosial Kabupaten Tanah Laut dengan membuka dapur umum,” jelasnya.
Dapur umum yang beroperasi di Kecamatan Kurau mampu memproduksi sekitar 8.000 paket makanan siap saji setiap hari untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak banjir di sejumlah desa.
Achmadi menjelaskan, kondisi banjir saat ini juga dipengaruhi cuaca ekstrem yang berubah-ubah, mulai dari hujan deras hingga panas, lalu kembali turun hujan. Situasi tersebut mempercepat aliran air dari kawasan pegunungan menuju wilayah hilir.
“Curah hujan tinggi, lalu air laut menahan aliran sungai. Ditambah cuaca yang tidak menentu, hujan-panas-hujan lagi, sehingga air bertahan cukup lama,” ujarnya.
Untuk wilayah hulu sungai, Achmadi memastikan kondisi sudah relatif aman dan air mulai surut. Namun, beberapa kawasan masih mencatat genangan cukup tinggi meski trennya terus menurun.
“Hulu sungai sudah aman. Tapi di Tapin seperti Candi Laras Utara dan Selatan, serta Marabahan dan sekitarnya, air masih cukup tinggi walaupun sudah berangsur turun,” katanya.
Kabupaten Banjar disebut sebagai wilayah yang menerima limpahan aliran air dari hulu sungai sebelum mengalir ke Kota Banjarmasin dan Kabupaten Barito Kuala. Aliran tersebut membuat beberapa kecamatan masih menjadi perhatian pemerintah.
“Air dari Pengaron dan Sungai Pinang itu bermuara terakhir di Kabupaten Banjar, lalu lanjut ke Banjarmasin dan Barito Kuala, seperti Mandastana dan Jejangkit. Itu yang masih kita pantau,” ucap Achmadi.
Meski demikian, ia menyebutkan bahwa kondisi banjir di Kecamatan Sungai Tabuk menunjukkan perkembangan positif dengan penurunan muka air yang cukup signifikan.
“Alhamdulillah, di Sungai Tabuk sudah terlihat penurunan air yang cukup signifikan,” pungkasnya.









