Tugu 17 Mei Dicoret Cat Pilok, Kondisi Monumen Bersejarah di Perbatasan Banjar-Banjarbaru Jadi Sorotan

- Penulis

Minggu, 4 Oktober 2026 - 21:15 WITA

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

pro1.id, BANJAR — Kondisi Tugu 17 Mei yang berada di kawasan bundaran penghubung Kabupaten Banjar, Banjarbaru, dan Banjarmasin menjadi perhatian. Monumen bersejarah tersebut ditemukan dalam kondisi penuh coretan berukuran besar menggunakan cat pilok berwarna hitam.

Coretan terlihat pada keempat sisi tugu dan menyerupai tulisan grafiti. Keberadaan coretan tersebut membuat tampilan monumen yang memiliki nilai sejarah bagi Kalimantan Selatan menjadi terganggu.

Informasi mengenai keberadaan coretan sebelumnya juga beredar unggahan netizen melalui akun Instagram @info_banjarmasin pada Rabu (23/9/2026). Dalam unggahan tersebut terlihat coretan yang terlihat masih dalam kondisi baru dan dibuat menggunakan cat pilok hitam dengan ukuran yang cukup besar yang diduga dilakukan oleh orang yang belum diketahui identitasnya.

Berdasarkan pantauan Proone.id di lokasi pada Minggu (4/10/2026), tulisan tersebut memang terlihat jelas walaupun sudah terlihat mulai pudar pada badan tugu. Ukurannya yang besar membuat coretan mudah terlihat oleh pengguna jalan yang melintas di kawasan bundaran tersebut.

Tugu 17 Mei sendiri bukan sekadar bangunan penghias kawasan bundaran. Monumen ini dibangun untuk mengenang Proklamasi 17 Mei 1949, yakni pernyataan rakyat Kalimantan Selatan yang menegaskan tetap menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Baca Juga :  Pemkab Banjar Libatkan Lemtek UI, Targetkan Pengelolaan Sampah Bebas Residu Tahun 2029

Monumen tersebut kemudian diresmikan pada 17 Mei 1985 oleh Gubernur Kalimantan Selatan saat itu, Ir. HM Said. Karena memiliki kaitan dengan sejarah perjuangan dan perjalanan Kalimantan Selatan, keberadaan tugu ini menjadi salah satu bagian penting dari jejak sejarah daerah.

Salah seorang pedagang di sekitar bundaran Tugu 17 Mei yang meminta namanya tidak disebutkan mengatakan, dirinya telah berjualan di lokasi tersebut selama sekitar enam bulan. Menurutnya, jika tidak keliru, coretan itu sudah terlihat sejak dirinya mulai berjualan.

“Saya sudah sekitar enam bulan berjualan di sini. Kalau tidak salah, coretan itu memang sudah ada sejak awal saya berjualan,” ujarnya.

Pedagang tersebut mengaku masih ragu memastikan kapan tepatnya coretan dibuat. Ia bahkan sempat mencoba menghubungi pedagang yang sebelumnya berjualan di lokasi tersebut untuk menanyakan informasi tersebut, namun belum berhasil mendapatkan keterangan karena yang bersangkutan tidak dapat dihubungi.

Hal itu membuat informasi mengenai waktu munculnya coretan masih belum sepenuhnya jelas. Di satu sisi terdapat informasi yang menyebut coretan tersebut masih baru, sementara keterangan di lapangan mengindikasikan tulisan itu kemungkinan telah berada di lokasi dalam waktu cukup lama.

Baca Juga :  DPRD Banjar Jadwalkan RDP dengan PT Palmina, Bahas Dugaan Dampak Banjir di Cintapuri

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena coretan berada pada sebuah monumen yang terletak di kawasan strategis dan ramai dilintasi masyarakat. Keberadaannya dinilai mengurangi tampilan Tugu 17 Mei yang seharusnya menjadi salah satu pengingat sejarah perjuangan masyarakat Kalimantan Selatan.

Tim Proone.id kemudian mencoba meminta konfirmasi kepada Camat Gambut, Ramdani, terkait kondisi tersebut. Ramdani mengatakan pihaknya akan segera melakukan pengecekan di lapangan dan berkoordinasi dengan dinas terkait.

“Saya akan segera cek dan koordinasikan dengan dinas terkait,” kata Ramdani.

Hingga berita ini diterbitkan, belum dapat dipastikan apakah coretan tersebut benar-benar baru dibuat atau sudah ada sejak beberapa waktu sebelumnya. Perbedaan informasi antara temuan di media sosial dan keterangan pedagang di lokasi masih membutuhkan pengecekan lebih lanjut.

Masyarakat berharap persoalan tersebut segera mendapat perhatian dari pihak terkait. Selain untuk mengembalikan tampilan tugu seperti semula, langkah penanganan juga dinilai penting untuk menjaga keberadaan monumen bersejarah agar tetap terawat dan tidak menjadi sasaran aksi vandalisme.

Berita Terkait

PCNU Kabupaten Banjar Gelar Hari Santri Tingkat Provinsi, Diikuti 55 Pondok Pesantren
Pemdes Rampah Matangkan Perubahan APBDes 2026 Lewat Evaluasi Kecamatan
50 Pelaku Usaha Ikuti Sosialisasi OSS-RBA, Distan Banjar Fasilitasi Kendala Perizinan
Posbindu Lansia hingga Posyandu Remaja di Tunggul Irang Ilir Berikan Layanan Kesehatan Gratis
BLT Tahap 10 Desa Tunggul Irang Ilir Disalurkan kepada Enam Penerima Manfaat
Pambakal Kuin Besar Ikuti Bimtek Awal Masa Jabatan Periode Kedua
Evaluasi APBDes Perubahan 2026, Pemdes Tambak Anyar Ulu Sesuaikan Anggaran dengan Kebutuhan Desa
Posyandu Melati Rampah Layani Sekitar 70 Warga, Pemeriksaan Kesehatan Diberikan Gratis

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 19:44 WITA

PCNU Kabupaten Banjar Gelar Hari Santri Tingkat Provinsi, Diikuti 55 Pondok Pesantren

Kamis, 22 Oktober 2026 - 12:51 WITA

Pemdes Rampah Matangkan Perubahan APBDes 2026 Lewat Evaluasi Kecamatan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 12:19 WITA

50 Pelaku Usaha Ikuti Sosialisasi OSS-RBA, Distan Banjar Fasilitasi Kendala Perizinan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 06:35 WITA

Posbindu Lansia hingga Posyandu Remaja di Tunggul Irang Ilir Berikan Layanan Kesehatan Gratis

Kamis, 22 Oktober 2026 - 06:28 WITA

BLT Tahap 10 Desa Tunggul Irang Ilir Disalurkan kepada Enam Penerima Manfaat

Berita Terbaru

Kabupaten Banjar

Pemdes Rampah Matangkan Perubahan APBDes 2026 Lewat Evaluasi Kecamatan

Kamis, 22 Okt 2026 - 12:51 WITA