pro1.id, MARTAPURA – Upaya membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Banjar. Melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), sosialisasi Pemulihan Sosial Pascabencana digelar di Kantor Desa Pasar Jati, Kecamatan Astambul, Selasa (23/6/2026).
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 50 peserta yang terdiri dari aparatur desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), ketua RT, tokoh masyarakat, serta warga Desa Pasar Jati.
Sosialisasi ini menghadirkan dua narasumber, yakni Hana Humaira dari Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Selatan dan Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Banjar, Amiruddin.
Dalam sambutannya, Sekretaris BPBD Kabupaten Banjar, Yayan Daryanto S Hut, mengatakan Kabupaten Banjar merupakan salah satu daerah yang memiliki tingkat kerawanan cukup tinggi terhadap berbagai jenis bencana, mulai dari banjir, tanah longsor, angin puting beliung hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Menurutnya, dampak bencana tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik dan kerugian materiil, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi sosial dan psikologis masyarakat.
“Kerugian akibat bencana tidak hanya berupa kerusakan fisik maupun harta benda, tetapi juga dapat menimbulkan trauma dan mengguncang tatanan kehidupan sosial masyarakat. Karena itu, pemulihan sosial pascabencana menjadi sangat penting agar masyarakat dapat kembali bangkit dan menjalani kehidupan secara normal,” ujar Yayan.
Ia menjelaskan, pemulihan pascabencana menjadi tahapan yang sangat penting bagi para penyintas. Keberhasilan proses pemulihan akan menentukan apakah masyarakat mampu bangkit dan kembali menjalani kehidupan normal, menjadi lebih baik, atau justru semakin terpuruk.
Yayan mengungkapkan, selama ini upaya pemulihan pascabencana lebih banyak difokuskan pada pembangunan infrastruktur fisik. Padahal, aspek sosial dan psikologis masyarakat terdampak juga memerlukan perhatian yang sama besar.
“Melalui forum ini kita ingin menyamakan persepsi dan memperkuat sinergi antara pemerintah, masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan. Kita harus bersama-sama membangun kesiapsiagaan agar lebih tangguh menghadapi berbagai kemungkinan bencana di masa mendatang,” katanya.

Dalam paparannya, Yayan menjelaskan bahwa penanggulangan bencana terbagi ke dalam tiga tahapan, yakni pra bencana, saat bencana, dan pascabencana.
Pada tahap pra bencana, kegiatan yang dilakukan meliputi pencegahan, mitigasi dan kesiapsiagaan. Sementara saat terjadi bencana dilakukan penanganan tanggap darurat serta pemulihan darurat. Sedangkan pada tahap pascabencana, fokus diarahkan pada rehabilitasi dan rekonstruksi.
Berbagai upaya pemulihan yang dapat dilakukan di antaranya perbaikan lingkungan dan sanitasi, pemulihan fasilitas pelayanan kesehatan, pemulihan psikososial, hingga pemulihan ekonomi masyarakat.

Yayan menegaskan, pemulihan psikososial menjadi salah satu aspek penting dalam penanganan pascabencana. Melalui pendampingan psikologis, masyarakat diharapkan dapat segera pulih dari trauma dan kembali menjalankan aktivitas sosial secara normal.
Ia pun mengapresiasi seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut serta berharap ilmu yang diperoleh dapat diterapkan di lingkungan masing-masing.
“Saya berharap seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan ini dengan serius, menyerap ilmu yang disampaikan narasumber dan mampu mengaplikasikannya langsung di tengah masyarakat. Dengan demikian, kita dapat mewujudkan masyarakat Kabupaten Banjar yang tangguh, mandiri dan agamis,” pungkasnya.









