Melukis sebagai Ruang Pulang: Perjalanan Berkesenian Nurlita Tadzlila Wijayanti

- Penulis

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:05 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

pro1.id, BANJARMASIN – Sejak usia dini, Nurlita Tadzlila Wijayanti sudah akrab dengan warna dan coretan. Perempuan berusia 22 tahun ini mengenang masa taman kanak-kanak sebagai titik awal ketertarikannya pada seni lukis saat mencampur warna terasa seperti sebuah eksperimen kecil yang menyenangkan. Dari situlah, melukis menjadi aktivitas yang terus hadir dalam hidupnya hingga kini.

Namun, bagi Tadzlila, melukis bukanlah jalan hidup yang dibingkai oleh tuntutan profesional. Ia memilih menempatkan seni sebagai ruang yang bebas dari paksaan. Melukis adalah bentuk self-healing, dilakukan dengan santai, mengikuti irama perasaan dan suasana hati.

“Saya tidak ingin hobi berubah menjadi tekanan,” ujarnya.

Perjalanan berkesenian Tadzlila tak lepas dari peran besar kedua orang tuanya. Sejak kecil, ia diperkenalkan pada beragam aktivitas seni mulai dari teater, puisi, pantun, menari, hingga melukis. Dari semua itu, melukis menjadi medium yang paling ia rasakan kedekatannya. Dukungan keluarga terhadap kegiatan positif menjadi fondasi penting dalam proses tumbuhnya sebagai perupa muda.

Inspirasi karya-karya Tadzlila datang dari banyak arah: pengalaman pribadi, imajinasi, serta pengamatan terhadap karya seniman profesional. Baginya, pengalaman personal adalah dorongan paling jujur dalam menciptakan karya. Perasaan yang dialami lelah, rindu, kehilangan, atau kegembiraan sering kali menemukan bentuknya di atas kanvas.

Proses kreatifnya pun berjalan tanpa target waktu yang kaku. Ide biasanya muncul secara spontan, lalu diterjemahkan ke dalam sketsa awal. Penyelesaian sebuah lukisan bisa memakan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, bergantung pada mood yang ia rasakan. Tadzlila percaya, karya yang baik lahir dari kondisi batin yang siap, bukan dari paksaan.

Baca Juga :  Kapolres Banjarbaru Tegaskan Disiplin Ketat Pelaksanaan SOP Program MBG: “Tidak Ada Toleransi untuk Pelanggaran yang Mengancam Keselamatan”

Dalam pencarian gaya, Tadzlila masih mengeksplorasi bentuk dan medium. Karya-karyanya cenderung abstrak, menggunakan beragam media seperti cat akrilik, cat air, hingga gouache. Eksplorasi ini menjadi bagian dari proses menemukan identitas visualnya sendiri.

 

Melalui lukisannya, Tadzlila tidak berusaha menyampaikan pesan yang tunggal. Ia justru memberi ruang bagi imajinasi penikmat karya. Salah satu karyanya yang dipamerkan dalam Banjarmasin Art Week 2024 menggambarkan perasaan dua insan yang telah berpisah, namun masih menyimpan memori satu sama lain. Menurutnya, sebuah lukisan memiliki makna yang bisa berbeda bagi setiap orang yang melihatnya.

Sebagai seniman muda, tantangan terbesar yang ia rasakan adalah keterbatasan ruang pamer. Meski media digital memudahkan promosi karya, risiko penjiplakan menjadi kekhawatiran tersendiri. Oleh karena itu, ia menilai ruang pamer fisik tetap penting sebagai medium apresiasi yang lebih aman dan bermakna.

Tadzlila mengakui pernah berada di fase ragu dan ingin berhenti melukis. Saat itu terjadi, ia memilih tidak memaksakan diri. Mengalihkan perhatian pada aktivitas lain menjadi cara untuk menyegarkan pikiran dan perasaan, hingga ide baru kembali muncul dengan sendirinya.

Baca Juga :  Panggilan Hati Nurani Erva : Relawan Perempuan asal Bontang Kaltim, Kisah Pengabdian di Lokasi Bencana Aceh Tamiang

Meski aktif berkarya, Tadzlila tidak serta-merta melabeli dirinya sebagai pelukis. Ia melukis untuk kesenangan pribadi. Lingkungan sekitar pun merespons positif, memberikan dukungan dan fasilitas agar aktivitas seninya terus berkembang.

Pengalaman paling berkesan sejauh ini adalah saat karyanya dipamerkan secara langsung dalam Banjarmasin Art Week 2024. Meski hanya satu karya dan satu kali keikutsertaan, momen tersebut menjadi tonggak penting ruang pertemuan antara karya, seniman, dan publik.

Ke depan, Tadzlila memiliki mimpi untuk mempelajari teknik sfumato, teknik legendaris yang dipopulerkan Leonardo da Vinci dan Giorgione. Ia juga optimistis terhadap masa depan seni lukis di kalangan generasi muda, terutama dengan hadirnya perpaduan antara seni tradisional dan digital.

Kepada anak muda yang ingin menekuni seni lukis, ia berpesan untuk percaya diri, konsisten mengembangkan diri, dan tidak takut pada penilaian orang lain. Ia juga menegaskan pentingnya menjaga orisinalitas tidak menjiplak karya orang lain dan tidak menggunakan AI dalam proses penciptaan seni.

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagi Tadzlila, melukis adalah ruang pulang. Tempat untuk menyembuhkan diri, meluapkan lelah, dan menyegarkan batin di tengah kesibukan hidup.

Berita Terkait

Temulawak Sani, Warisan Herbal 50 Tahun yang Laris Manis Saat Ramadan
Sentuhan Timur Tengah Warnai Buka Puasa Perdana di Aeris Hotel Banjarbaru
Sadali: Tentang Cinta yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi
Ramadan 2026, Grand Qin Hotel Banjarbaru Sajikan Kelana Rasa Bertema Timur Tengah
Film Kuyank 2026 dan Representasi Tekanan Sosial terhadap Perempuan
Panggilan Hati Nurani Erva : Relawan Perempuan asal Bontang Kaltim, Kisah Pengabdian di Lokasi Bencana Aceh Tamiang
Kuyank, Film Horor Folklor Kalimantan Selatan, Siap Menghantui Layar Lebar Januari 2026
Kopi Gadis, Ruang Berbagi dan Bukti Kemandirian Perempuan Muda dari Tapin
Berita ini 71 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 23 Februari 2026 - 23:20 WITA

Temulawak Sani, Warisan Herbal 50 Tahun yang Laris Manis Saat Ramadan

Jumat, 20 Februari 2026 - 15:49 WITA

Sentuhan Timur Tengah Warnai Buka Puasa Perdana di Aeris Hotel Banjarbaru

Minggu, 8 Februari 2026 - 18:41 WITA

Sadali: Tentang Cinta yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi

Rabu, 4 Februari 2026 - 21:25 WITA

Ramadan 2026, Grand Qin Hotel Banjarbaru Sajikan Kelana Rasa Bertema Timur Tengah

Jumat, 30 Januari 2026 - 20:52 WITA

Film Kuyank 2026 dan Representasi Tekanan Sosial terhadap Perempuan

Berita Terbaru

Kabupaten Banjar

TNI Siap Bersinergi Dukung Pengamanan Operasi Ketupat Intan 2026

Kamis, 12 Mar 2026 - 21:32 WITA

Kalimantan Selatan

Jelang Mudik Lebaran, PUPR Kalsel Percepat Perbaikan Jalan Provinsi

Kamis, 12 Mar 2026 - 21:26 WITA