pro1.id, SUKABUMI — Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Piranha Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Kalimantan Selatan berhasil menorehkan prestasi dalam kompetisi nasional Super Advanture 2026 di Ujung Genteng, Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu (12/9/2026).
Empat anggota Mapala Piranha yang turun sebagai satu tim harus menghadapi rangkaian medan ekstrem bersama 120 tim Mapala dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian perlombaan, tim asal Kalsel tersebut menempati peringkat kedelapan dengan perolehan 944 poin.
Kompetisi yang dimulai sekitar pukul 05.00 WIB itu mempertemukan peserta dalam sejumlah tantangan alam. Lintasan yang harus dilewati meliputi Trail Running, Canyoning, Orienteering, Rafting hingga Coastal Tracking dengan total jarak mencapai 44,5 kilometer.
Rinciannya, peserta menempuh Trail Running sepanjang 22 kilometer, Orienteering 5 kilometer, Rafting 5 kilometer dan Coastal Tracking sejauh 12 kilometer. Seluruh rangkaian tersebut berhasil diselesaikan Mapala Piranha dengan waktu tempuh sekitar tujuh jam.
Pada dua etape awal, Mapala Piranha sempat menunjukkan performa yang cukup baik. Mereka bahkan berada di barisan terdepan ketika menjalani lintasan Trail Running dan Canyoning.
Namun, tantangan berbeda muncul ketika memasuki Orienteering. Kondisi hutan yang rimbun membuat tim sempat mengalami kesulitan menemukan sejumlah titik kontrol yang menjadi bagian dari perlombaan.
Ketua tim Mapala Piranha, Rizki Ardiana, mengatakan timnya sempat kehilangan waktu ketika mencari titik pada Orienteering versi pertama. Mereka mengalami kesulitan dalam menentukan koordinat sehingga salah satu titik yang seharusnya dapat ditemukan lebih cepat justru membutuhkan waktu lebih lama.
“Orienteering di versi I sempat kesasar saat mencari point ke dua. Hutannya rimbun dan kami sempat kesulitan melakukan pengambilan titik koordinat,” ujar Rizki.
Kesulitan serupa kembali terjadi pada Orienteering versi kedua ketika tim menuju poin ke-19. Meski sempat keluar dari jalur pencarian, kondisi tersebut tidak berlangsung lama sehingga mereka dapat kembali melanjutkan perlombaan.
“Kami menuju poin ke-19 Orienteering versi II sempat kesasar juga. Tapi tidak lama, sebentar saja,” katanya.
Setelah keluar dari etape Orienteering, perjuangan berlanjut di lintasan Rafting. Mapala Piranha harus berpacu dengan tim lain dalam medan arung jeram sejauh lima kilometer. Pada etape ini, mereka sempat tertinggal sekitar lima hingga delapan menit dari dua peserta lainnya.
Kondisi tersebut tidak membuat tim asal Kalimantan Selatan menyerah. Setelah menyelesaikan lintasan arung jeram menggunakan perahu karet, keempat anggota Mapala Piranha kembali mengerahkan tenaga untuk menghadapi etape terakhir, Coastal Tracking.
Lintasan terakhir menjadi salah satu penentu perjuangan mereka. Tim harus melewati kawasan tebing karang, hutan mangrove hingga menyusuri pesisir Pantai Ujung Genteng. Meski kondisi fisik mulai terkuras, mereka mampu mengejar dua tim yang sebelumnya berada di depan setelah menyelesaikan etape Rafting.
Dengan tenaga yang tersisa, Mapala Piranha terus berlari hingga akhirnya menjadi tim pertama yang berhasil menembus garis finis dalam Super Advanture 2026. Dari 120 tim yang mengikuti kompetisi, hanya 38 tim yang tercatat berhasil mencapai garis finish.
Meski menjadi tim pertama yang mencapai garis akhir, hasil akhir berdasarkan akumulasi poin menempatkan Mapala Piranha FPIK ULM di posisi kedelapan dengan raihan 944 poin.
Super Advanture 2026 sendiri menguji kemampuan peserta dalam berbagai aktivitas luar ruang. Setiap etape membutuhkan perpaduan kekuatan fisik, kemampuan navigasi, ketahanan, teknik serta kekompakan tim untuk dapat menyelesaikan seluruh tantangan hingga garis finis.















