pro1.id, BANJARBARU – Kebocoran pipa transmisi air baku berdiameter 1.200 milimeter milik Balai Pengelolaan Air Minum (BPAM) Banjarbakula berdampak pada distribusi air bersih di Kota Banjarbaru. Gangguan yang terjadi di kawasan Sei Landasan Mandikapau, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, menyebabkan tekanan air menurun hingga aliran terhenti di sejumlah wilayah pelayanan.
Penanganan kebocoran yang terdeteksi pada Jumat (9/10/2026) masih berlangsung hingga Selasa (13/10/2026). Proses perbaikan diperkirakan memerlukan waktu sekitar lima hingga 10 hari, bergantung pada kondisi lapangan dan tahapan pekerjaan teknis.
Kepala BPAM Banjarbakula, Siddiq Wahyu Pamungkas, menjelaskan bahwa estimasi waktu tersebut didasarkan pada kondisi kerusakan dan pekerjaan yang diperlukan untuk memulihkan jalur transmisi utama.
“Berdasarkan kondisi di lapangan dan tahapan pekerjaan yang diperlukan, proses penanganan dan perbaikan pipa diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 5–10 hari. Kami akan terus berupaya mengoptimalkan operasional Intake Emergency selama pekerjaan berlangsung,” ujarnya.
Setelah kebocoran diketahui, petugas segera menghentikan operasional pompa Intake Mandikapau dan menutup sejumlah valve yang terhubung dengan jalur terdampak. Langkah ini dilakukan untuk mengamankan sistem transmisi sebelum perbaikan dilanjutkan.
Untuk membantu menjaga ketersediaan air baku selama perbaikan, BPAM Banjarbakula mengoperasikan Intake Emergency dengan kapasitas debit sekitar 120 liter per detik. Namun, pasokan darurat tersebut belum sepenuhnya mengatasi gangguan distribusi air yang dirasakan pelanggan.
Humas PT Air Minum (PTAM) Intan Banjar, Mahyuni, mengatakan kebocoran pipa utama tersebut berdampak pada tekanan air dan menyebabkan terhentinya aliran di sejumlah wilayah pelayanan Banjarbaru.
“Wilayah yang terdampak meliputi seluruh wilayah pelayanan Banjarbaru, mulai dari Landasan Ulin hingga Liang Anggang serta Trikora. PTAM Intan Banjar meminta maaf kepada pelanggan atas ketidaknyamanan serta gangguan distribusi air ini,” katanya, Sabtu (10/10/2026).
Gangguan pasokan juga dirasakan warga di kawasan Guntung Manggis. Salah seorang warga, Irza, mengatakan aliran air sempat kembali menyala pada Senin (12/10/2026) pagi, tetapi kemudian kembali terhenti.
“Air sempat menyala pada Senin pagi, tetapi kemudian mati kembali. Masalah ini katanya akan berlangsung sekitar 10 hari,” tuturnya, Selasa (13/10/2026).
Menurut Irza, kondisi tersebut semakin menyulitkan warga karena sumur yang biasa digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari juga mulai mengering akibat musim kemarau yang panjang. Di sisi lain, kebutuhan air terus berjalan dan persediaan di tempat penampungan mulai menipis.
“Kondisi ini semakin terganggu karena sumur juga ikut kering dampak dari musim kemarau yang panjang, kebutuhan air yang meningkat serta penampungan air yang sudah mulai kosong. Situasi ini membuat warga kesulitan untuk mendapatkan air bersih,” ungkapnya.
Gangguan distribusi tersebut menjadi persoalan bagi masyarakat karena air bersih dibutuhkan untuk berbagai aktivitas rumah tangga sehari-hari. Kondisi sumur yang mulai mengering turut membatasi alternatif sumber air bagi sebagian warga terdampak.
Selama proses perbaikan berlangsung, pelanggan diimbau menghemat penggunaan air dan menyiapkan cadangan sesuai kebutuhan. Masyarakat juga diharapkan mengikuti informasi resmi dari BPAM Banjarbakula dan PTAM Intan Banjar mengenai perkembangan perbaikan serta pemulihan distribusi.
Pemulihan layanan bergantung pada penyelesaian perbaikan pipa transmisi dan kondisi operasional sistem pasokan air baku. Hingga pekerjaan selesai, optimalisasi intake darurat menjadi salah satu upaya untuk membantu mempertahankan ketersediaan pasokan air bagi wilayah pelayanan yang terdampak.
Sumber : MC Banjarbaru















