pro1.id, BALIKPAPAN – Langkah kaki seakan melambat begitu memasuki kawasan Pasar Tumpah Pringgodani di Jalan Gunung Binjai, Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur. Di bawah rindangnya pepohonan, aroma kuliner tradisional berpadu dengan semilir angin yang menyejukkan.



Deretan pedagang mengenakan kebaya, lurik, caping hingga blangkon menyambut setiap pengunjung dengan senyum ramah, menghadirkan suasana pedesaan Jawa yang terasa begitu autentik di tengah Kota Balikpapan.



Destinasi yang diresmikan Pemerintah Kota Balikpapan pada awal 2024 ini bukan sekadar pasar wisata. Pasar Tumpah Pringgodani menjadi ruang pertemuan antara budaya, kuliner, alam, dan pelaku UMKM yang dikemas dalam konsep tradisional sehingga menghadirkan pengalaman berbeda bagi setiap pengunjung.



Tak banyak yang mengetahui, kawasan ini sebelumnya merupakan kebun penelitian agronomi. Pepohonan asam, mahoni, dan meranti yang telah lama tumbuh tetap dipertahankan sehingga menciptakan suasana teduh sekaligus menjadi identitas kawasan wisata tersebut.

Mengusung konsep budaya Jawa, hampir seluruh pedagang mengenakan pakaian adat selama beraktivitas. Ornamen bambu, bangunan kayu, serta dekorasi khas pedesaan membuat pengunjung seolah sedang berjalan di sebuah pasar tradisional di Pulau Jawa.


Kesan itulah yang dirasakan salah seorang wisatawan, Dani. Menurutnya, suasana pasar mampu menghadirkan pengalaman budaya yang berbeda dari destinasi wisata lainnya.
“Ini sangat unik. Nuansa Jawanya benar-benar terasa dengan para pedagang yang memakai baju lurik sehingga menghadirkan kesan pedesaan yang sangat kental. Rasanya seperti dibawa langsung ke budaya itu. Berbelanja di sini juga unik karena menggunakan uang yang ditukarkan menjadi kepingan kayu. Pedagangnya tidak hanya menjual makanan khas Jawa, tetapi juga banyak makanan modern yang sedang viral,” ujarnya.



Keunikan lain yang selalu menarik perhatian pengunjung adalah sistem pembayarannya. Sebelum memasuki area pasar, wisatawan menukarkan uang rupiah menjadi kepingan uang kayu yang digunakan sebagai alat transaksi di seluruh lapak. Cara sederhana ini justru menjadi daya tarik tersendiri dan menghadirkan pengalaman berbelanja yang sulit ditemukan di tempat lain.
Berbagai kuliner tradisional tersaji berdampingan dengan jajanan kekinian. Selain itu, aneka hasil bumi, kerajinan tangan, dan produk UMKM lokal turut meramaikan setiap sudut pasar. Pengunjung bebas memilih beragam sajian sambil menikmati suasana rindang di bawah pepohonan.


Bagi Burhanuddin, keberagaman kuliner dan hasil alam menjadi alasan dirinya betah berlama-lama menikmati suasana Pasar Tumpah Pringgodani.
“Banyak kue dan makanan khas Jawa maupun makanan lainnya yang jarang saya lihat, bahkan belum pernah saya coba sebelumnya. Hasil alam seperti buah-buahan juga sangat banyak. Yang menarik, pengunjung tidak kesulitan lagi menikmatinya karena sebagian besar sudah dikupas dan dipotong sehingga tinggal disantap,” katanya.

Tak hanya menawarkan wisata kuliner, Pasar Tumpah Pringgodani juga rutin menghadirkan pertunjukan seni budaya seperti tarian tradisional dan atraksi kolosal. Kehadiran tokoh Hanoman di pintu masuk menjadi ikon yang selalu mengundang wisatawan untuk berfoto sebelum berkeliling menikmati seluruh kawasan.
Setiap Minggu pertama dalam sebulan, suasana semakin semarak melalui penyelenggaraan Pasar Keramat. Pada momentum ini, para pedagang mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia sebagai simbol keberagaman budaya Nusantara yang hidup berdampingan.

Dengan harga tiket masuk yang terjangkau, pengunjung dapat menikmati perpaduan wisata alam, budaya, kuliner, hingga hiburan dalam satu kawasan. Kehadiran Pasar Tumpah Pringgodani menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pengembangan pariwisata dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Di tengah pesatnya perkembangan Kota Balikpapan, Pasar Tumpah Pringgodani hadir sebagai ruang yang mengajak setiap orang sejenak memperlambat langkah, menikmati kekayaan tradisi, dan membawa pulang pengalaman yang bukan hanya mengenyangkan lidah, tetapi juga memperkaya cerita perjalanan.












