pro1.id, KOTABARU – Semangat memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya berkumandang di daratan. Di bawah permukaan laut Pulau Marabatuan, Kecamatan Pulau Sembilan, Kabupaten Kotabaru, Jumat (26/6/2026).



Bendera Merah Putih dikibarkan oleh mahasiswa Marine Diving Club (MDC) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Lambung Mangkurat (FPIK ULM).

Sebanyak 12 penyelam terlibat dalam kegiatan tersebut. Mereka terdiri dari satu instruktur selam, satu pendamping dari Pemerhati Alam dan Lingkungan (Pamali), serta 10 anggota MDC FPIK ULM. Dengan kedalaman sekitar tujuh meter, prosesi berlangsung di tengah hamparan terumbu karang yang menjadi salah satu kekayaan bahari perairan Marabatuan.



Bagi MDC FPIK ULM, pengibaran bendera di bawah laut bukan sekadar cara berbeda dalam memeriahkan kemerdekaan. Kegiatan tersebut menjadi simbol bahwa kecintaan terhadap Indonesia juga dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap laut sebagai bagian penting dari wilayah dan kekayaan bangsa.

Ketua Umum MDC FPIK ULM, Muhammad Ilham Agus Priyanto, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk partisipasi mahasiswa dalam memperingati kemerdekaan sekaligus mengajak generasi muda melihat laut bukan hanya sebagai ruang aktivitas, tetapi juga sebagai lingkungan yang harus dijaga.


“Semangat nasionalisme tidak hanya dapat diwujudkan di darat, tetapi juga di bawah laut. Kami ingin menunjukkan bahwa mencintai Indonesia juga berarti menjaga dan melestarikan kekayaan lautnya,” ujarnya.
Menurut Ilham, pemilihan Pulau Marabatuan bukan tanpa alasan. Kawasan tersebut memiliki ekosistem terumbu karang yang cukup baik dan dinilai potensial sebagai lokasi penyelaman. Kondisi perairannya juga memungkinkan kegiatan pengibaran bendera sekaligus aksi konservasi dilaksanakan dalam satu rangkaian.

Tak berhenti pada pengibaran bendera, MDC FPIK ULM turut melakukan transplantasi karang sebagai bagian dari upaya rehabilitasi ekosistem terumbu karang. Mahasiswa juga membuka program adopsi karang yang memungkinkan masyarakat ikut berpartisipasi dalam kegiatan konservasi.
Program tersebut diharapkan dapat memperluas keterlibatan masyarakat dalam menjaga ekosistem laut. Sebab, terumbu karang tidak hanya menjadi habitat berbagai biota, tetapi juga memiliki peran penting dalam menopang keberlanjutan sumber daya pesisir.

“Melalui transplantasi dan program adopsi karang, kami ingin mengajak masyarakat berpartisipasi langsung dalam upaya pelestarian terumbu karang. Harapannya kesadaran untuk menjaga laut tidak hanya menjadi tanggung jawab mahasiswa atau kelompok pemerhati lingkungan, tetapi menjadi tanggung jawab bersama,” jelas Ilham.

Persiapan dan Keselamatan Jadi Prioritas
Pengibaran bendera di bawah laut tentu memiliki tantangan tersendiri. Berbeda dengan prosesi di darat, penyelam harus berhadapan dengan kondisi arus, perubahan cuaca, pasang surut serta keterbatasan komunikasi selama berada di bawah permukaan air.
Karena itu, persiapan dilakukan sejak sebelum pelaksanaan. Tim melakukan survei lokasi, menyusun teknis pengibaran, mengecek perlengkapan selam, melakukan briefing hingga simulasi. Sistem buddy juga diterapkan untuk memastikan penyelam tetap saling memantau selama berada di bawah air.
Ilham menegaskan, aspek keselamatan menjadi perhatian utama. Seluruh penyelam harus memahami prosedur dan komunikasi melalui isyarat bawah air karena koordinasi secara verbal tidak dapat dilakukan seperti di daratan.
Dosen Pembina MDC FPIK ULM, Nursalam, S.Kel., M.S, mengatakan seluruh peserta yang terlibat merupakan anggota MDC yang telah mendapatkan pengetahuan dan keterampilan penyelaman.
“Mereka telah memiliki sertifikat selam sehingga telah memahami hal-hal tentang keselamatan penyelaman di bawah laut,” jelasnya.
Nursalam menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, MDC hampir setiap tahun memperingati kemerdekaan dengan pengibaran Bendera Merah Putih di bawah air, meski lokasi pelaksanaannya berbeda-beda. Tahun ini, Pulau Marabatuan dipilih sebagai lokasi kegiatan.
Ia menilai cara tersebut menjadi salah satu bentuk mahasiswa dalam mengekspresikan kecintaan terhadap Indonesia, terutama karena sebagian besar wilayah Indonesia merupakan perairan.

Jadi Ruang Belajar Mahasiswa
Lebih jauh, kegiatan tersebut juga dinilai memiliki keterkaitan erat dengan proses pembelajaran mahasiswa FPIK ULM. Rangkaian transplantasi karang memberikan pengalaman lapangan yang relevan dengan bidang keilmuan mahasiswa kelautan dan perikanan.
Nursalam menyebut kegiatan tersebut sejalan dengan pembelajaran mengenai rehabilitasi ekosistem pesisir dan laut, termasuk materi terkait rehabilitasi terumbu karang.
“Apalagi kegiatan ini dirangkaikan dengan transplantasi karang, dimana kami di ilmu kelautan ada mata kuliah teknologi rehabilitasi ekosistem pesisir dan laut, salah satunya terumbu karang,” katanya.
Kegiatan itu juga melibatkan masyarakat setempat yang memiliki perhatian terhadap terumbu karang serta penggiat konservasi penyu di Pulau Denawan dan Pulau Marabatuan.
Menurut Nursalam, keterlibatan tersebut membuka ruang pertukaran pengetahuan antara sivitas akademika dan masyarakat yang selama ini beraktivitas langsung di kawasan pesisir.
Nasionalisme Tak Berhenti pada Simbol
Bagi MDC, makna kemerdekaan tidak cukup diwujudkan melalui pengibaran bendera sebagai simbol kebangsaan. Semangat tersebut diharapkan diterjemahkan menjadi tindakan nyata dalam menjaga sumber daya alam Indonesia.
Mahasiswa sebagai generasi muda dinilai memiliki posisi strategis untuk mengajak masyarakat melihat pentingnya keberlanjutan ekosistem laut.
Ilham berharap kegiatan tersebut dapat mendorong semakin banyak generasi muda mengenal dunia penyelaman dengan cara yang aman, profesional sekaligus berorientasi pada konservasi.
“Kami berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik mempelajari dunia penyelaman secara aman, profesional, dan berorientasi pada konservasi lingkungan,” ujarnya.
Sementara itu, Nursalam mengajak generasi muda untuk tidak berhenti pada kecintaan terhadap Indonesia melalui simbol-simbol kebangsaan, tetapi turut mengambil bagian dalam menjaga sumber daya alam.
Ia mendorong anak muda terlibat dalam berbagai kegiatan lingkungan, baik dimulai dari kebiasaan pribadi maupun bergabung dengan kelompok pemerhati lingkungan.

Berpotensi Promosikan Wisata Selam Kalsel
Selain membawa pesan nasionalisme dan konservasi, kegiatan di Pulau Marabatuan juga membuka peluang untuk memperkenalkan potensi wisata bahari Kalimantan Selatan.
Keindahan bawah laut yang menjadi latar pengibaran Merah Putih dinilai dapat menjadi materi promosi untuk memperkenalkan potensi penyelaman di Kotabaru kepada masyarakat yang lebih luas.
Nursalam mengatakan dokumentasi kegiatan yang dipublikasikan dapat menjadi salah satu media untuk memperkenalkan wisata bahari, khususnya potensi bawah laut Kalimantan Selatan.
Ke depan, MDC FPIK ULM berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut. Tidak hanya pengibaran bendera bawah laut, tetapi juga dikembangkan melalui transplantasi karang, aksi bersih pantai dan bawah laut, edukasi lingkungan hingga penelitian yang mendukung pelestarian ekosistem pesisir.
“Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut di tahun-tahun mendatang. Semoga gaungnya bisa lebih luas lagi dan lebih banyak stakeholder yang terlibat,” pungkas Nursalam.
Bagi MDC FPIK ULM, Merah Putih yang berkibar di kedalaman laut Pulau Marabatuan bukan sekadar pemandangan unik dalam perayaan kemerdekaan. Di baliknya terdapat pesan bahwa mencintai Indonesia juga berarti merawat laut, melindungi terumbu karang dan memastikan kekayaan bahari tetap dapat dinikmati generasi mendatang.










