pro1.id,BANJARBARU – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Selatan menegaskan bahwa kebijakan terkait penggunaan handphone (HP) di lingkungan sekolah bukanlah pelarangan total, melainkan pembatasan yang bertujuan menjaga fokus belajar siswa.
Kepala Bidang Pembinaan SMA Disdikbud Kalsel, Dedi Hidayat, menyampaikan bahwa sejumlah sekolah bahkan telah lebih dulu menerapkan sistem pengaturan penggunaan gawai sebelum adanya penegasan kebijakan ini.
“Beberapa sekolah sudah menerapkan. Sebelum masuk kelas, handphone ditaruh di loker. Kalau diperlukan untuk pembelajaran, tentu boleh digunakan,” ujarnya, Rabu (25/02/2026).
Menurut Dedi, pembatasan dilakukan untuk meminimalisir gangguan selama proses belajar mengajar berlangsung. Namun, ia memastikan penggunaan HP tetap diperbolehkan dalam kondisi tertentu.
“Ini bukan pelarangan, tapi pembatasan. Kalau ada kondisi mendesak, misalnya orang tua menghubungi, tentu diperbolehkan,” jelasnya.
Ia menilai penggunaan gawai yang tidak terkontrol dapat memengaruhi konsentrasi belajar serta mengurangi interaksi sosial antar siswa. Selain itu, potensi akses terhadap konten yang tidak sesuai juga menjadi perhatian.
“Kita tidak tahu konten apa yang dibuka. Paling tidak di lingkungan sekolah kita jaga,” tegas Dedi.
Sebagai langkah teknis, beberapa sekolah menyediakan loker khusus untuk menyimpan HP selama jam pelajaran. Gawai tersebut dikembalikan setelah kegiatan belajar selesai atau saat dibutuhkan untuk kegiatan berbasis digital.
Kebijakan ini, lanjutnya, tidak bertentangan dengan program digitalisasi pendidikan. Sekolah tetap dapat memanfaatkan teknologi, termasuk untuk ujian berbasis digital maupun pembelajaran interaktif.
“Kalau ada ulangan berbasis digital atau memang perlu menggunakan HP, tentu diperbolehkan. Digitalisasi tetap berjalan, tetapi harus tetap menjaga pola belajar dan perkembangan karakter siswa,” katanya.
Disdikbud Kalsel berharap kebijakan ini mampu menciptakan suasana belajar yang lebih kondusif, seimbang antara pemanfaatan teknologi dan pembentukan karakter, sehingga siswa tetap produktif tanpa ketergantungan berlebihan terhadap gawai.









