pro1.id, MARTAPURA – Musim kemarau kembali membawa dampak buruk bagi pembudidaya ikan keramba jaring apung di aliran Sungai Riam Kanan, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar. Dalam beberapa hari terakhir, ribuan kilogram ikan dilaporkan mati akibat kondisi kualitas air yang terus menurun.



Peristiwa yang terjadi sejak awal pekan ini membuat para pembudidaya mengalami kerugian besar. Mereka menduga penyebab utama kematian ikan adalah berkurangnya debit air sungai selama musim kemarau yang mengakibatkan kadar oksigen terlarut tidak lagi mencukupi untuk menopang kehidupan ikan.

Salah seorang pembudidaya, Robi Hamdi, mengatakan kematian ikan mulai terjadi sejak Senin dan hingga kini masih terus berlangsung. Menurutnya, kejadian serupa hampir selalu berulang ketika musim kemarau tiba.



“Fenomena seperti ini hampir setiap tahun terjadi saat kemarau. Debit air sungai turun drastis sehingga ikan kekurangan oksigen. Di keramba saya ada lima petak, sebagian ikan sudah siap dipanen dan sebagian lagi masih dalam masa pembesaran. Saat ini rata-rata sekitar 1,5 ton ikan di setiap keramba sudah mati,” ujarnya, Rabu (8/7/2026).
Robi mengungkapkan kerugian yang dialaminya tidak sedikit. Dengan banyaknya ikan yang mati sebelum dipasarkan, nilai kerugian diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.


“Kalau dihitung dari seluruh keramba yang saya miliki, kerugiannya kurang lebih sekitar Rp200 juta,” katanya.
Keluhan serupa juga disampaikan pembudidaya lainnya, Ridhawati. Ia mengaku kondisi air sungai terus menyusut sehingga membuat para pembudidaya dihantui kekhawatiran kehilangan seluruh hasil budidayanya.

“Kalau dalam waktu dekat tidak turun hujan atau tidak ada tambahan aliran air dari bendungan, kami khawatir kondisi sungai akan semakin parah. Bisa saja dalam dua minggu ke depan air semakin surut dan kematian ikan bertambah banyak,” ujarnya.
Menurut Ridhawati, setiap keramba miliknya berisi sekitar dua ton ikan dengan nilai ekonomi yang cukup besar. Saat ini ia memiliki sepuluh unit keramba yang seluruhnya berpotensi terdampak apabila kondisi sungai tidak segera membaik.

“Satu keramba nilainya sekitar Rp50 juta dan saya punya sepuluh keramba. Bisa dibayangkan berapa besar kerugian yang akan kami alami kalau semuanya terdampak,” ungkapnya.
Para pembudidaya berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait segera mengambil langkah penanganan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Mereka menilai persoalan ini terus berulang setiap musim kemarau sehingga diperlukan solusi yang mampu menjaga kualitas air dan keberlangsungan usaha budidaya ikan di Sungai Riam Kanan.
Mereka berharap upaya seperti pengaturan aliran air, pemantauan kualitas sungai, hingga langkah mitigasi lainnya dapat segera dilakukan agar kerugian yang dialami masyarakat tidak terus terulang dari tahun ke tahun.










