pro1.id, MARTAPURA – Pemerintah Kabupaten Banjar mulai mengambil langkah penanganan setelah kasus kematian ikan budidaya secara massal meluas di sepanjang aliran Sungai Martapura. Jika sebelumnya peristiwa tersebut terjadi di Desa Sungai Arfat, Kecamatan Karang Intan, kini dampaknya juga dirasakan para pembudidaya di Desa Pingaran Ulu dan Pingaran Ilir, Kecamatan Astambul.



Meluasnya kejadian tersebut mendorong pemerintah daerah untuk segera melakukan investigasi guna mengetahui penyebab pasti matinya ribuan ikan di keramba warga.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Banjar, Ikhwansyah, mengatakan pemerintah telah menyiapkan langkah cepat sekaligus menyusun penanganan jangka panjang agar persoalan serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau.



“Kami turut prihatin dengan kondisi yang dialami para pembudidaya. Pemerintah daerah akan segera melakukan penanganan di lapangan dan mengoordinasikan seluruh instansi terkait untuk mencari solusi bersama,” ujarnya.
Menurut Ikhwansyah, informasi yang diperoleh dari pemerintah desa maupun masyarakat menunjukkan bahwa fenomena serupa hampir terjadi setiap tahun ketika debit air sungai mengalami penurunan.


Karena itu, pemerintah daerah berencana menggelar rapat lintas organisasi perangkat daerah (OPD) guna menyusun langkah penanganan yang lebih komprehensif.
“Kami akan mengumpulkan seluruh SKPD yang memiliki keterkaitan agar bisa merumuskan langkah jangka panjang, sehingga kejadian seperti ini tidak terus berulang setiap musim kemarau,” katanya.

Selain menimbulkan kerugian bagi pembudidaya ikan, banyaknya bangkai ikan yang mengapung di sungai juga mulai berdampak terhadap kebutuhan air bersih masyarakat di sekitar lokasi.
Untuk mengantisipasi persoalan tersebut, Pemkab Banjar telah berkoordinasi dengan PT Air Minum (PTAM) Intan Banjar agar distribusi air bersih kepada warga terdampak dapat segera dilakukan.

“Kami sudah berkomunikasi dengan PTAM Intan Banjar supaya masyarakat yang terdampak tetap memperoleh pasokan air bersih selama kondisi sungai belum kembali normal,” tambah Ikhwansyah.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH) Kabupaten Banjar, Sutiyono, menjelaskan pihaknya telah melakukan langkah mitigasi sejak Selasa malam sebelum turun langsung ke lapangan pada Rabu pagi.
Selain melakukan koordinasi dengan pemerintah desa dan instansi terkait, tim juga mengambil sampel air Sungai Martapura untuk dilakukan pengujian di laboratorium milik DPRKPLH yang telah terakreditasi.
“Sampel air sudah kami ambil dan sedang diperiksa di laboratorium. Mudah-mudahan hasilnya dapat diketahui dalam waktu sekitar dua hari sehingga penyebab kematian ikan bisa dipastikan secara ilmiah,” jelas Sutiyono.
Menurutnya, hasil pemeriksaan laboratorium akan menjadi dasar dalam menentukan faktor penyebab, apakah berkaitan dengan menurunnya kualitas air, berkurangnya debit sungai, rendahnya kadar oksigen terlarut, atau faktor lainnya.
Dalam proses penanganan, DPRKPLH juga bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, aparat kepolisian, serta pemerintah desa.
Di lapangan, petugas bersama warga bergotong royong mengangkat bangkai ikan yang mengambang di Sungai Martapura guna mengurangi pencemaran, mencegah bau menyengat, serta mempercepat pemulihan kondisi lingkungan di kawasan terdampak.










