pro1.id,TANAH BUMBU – Kelompok 4 Mahasiswa Program KKNT-LH Universitas Lambung Mangkurat (ULM) di Desa Sumber Baru menggelar program Eco Cycle sebagai upaya meningkatkan dan dorong kesadaran masyarakat dalam kelola sampah Organik dengan biopori dalam memilah dan mengelola sampah.



Mengusung tema “Pilah, Kelola, dan Manfaatkan Sampah untuk Desa yang Berdaya”, kegiatan tersebut berlangsung di Balai Rakyat Desa Sumber Baru, Kamis (30/7/2026), mulai pukul 08.00 hingga 12.05 WITA. Sebanyak 24 tokoh masyarakat Desa Sumber Baru turut mengikuti rangkaian kegiatan.

Program Eco Cycle tidak hanya memberikan pemahaman mengenai pemilahan sampah, tetapi juga mengajak peserta melakukan praktik pengelolaan sampah organik melalui pembuatan biopori. 



Ketua Pelaksana Eco Cycle, Muhammad Fauzan Ananta, menjelaskan program tersebut berangkat dari kondisi masih banyaknya sampah organik yang belum dikelola secara optimal di lingkungan Desa Sumber Baru.
“Yang melatarbelakangi adanya program Eco Cycle di Sumber Baru karena banyak sampah organik yang tidak termanfaatkan dengan baik. Sehingga kami menerapkan pemasangan biopori agar sampah, khususnya yang organik, bisa terkelola dengan baik,” ujar Fauzan.


Ia mengatakan, pengelolaan sampah organik menjadi fokus utama karena jenis sampah tersebut dinilai cukup dominan di wilayah Tanah Bumbu. Melalui Eco Cycle, kelompok KKN Tematik ULM ingin mendorong masyarakat agar tidak hanya mengetahui cara memilah sampah, tetapi juga mampu menerapkannya secara langsung.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan dua materi utama. Materi mengenai pentingnya pemilahan sampah disampaikan Agus Pujianto dan Muhammad Yasser Karima, sedangkan materi pengelolaan sampah organik diberikan oleh Zaidan Failasufa dan Maulida Nur Safitri.

Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pembuatan biopori. Perwakilan tokoh masyarakat diberikan kesempatan untuk mengikuti praktik secara langsung agar metode yang diperkenalkan dapat diterapkan kembali di lingkungan masing-masing.
Menurut Fauzan, respons masyarakat terhadap kegiatan tersebut cukup positif. Dari 12 RT yang ada di Desa Sumber Baru, masyarakat menunjukkan partisipasi dan sejumlah warga bahkan mulai menerapkan pengelolaan sampah organik menggunakan biopori.

Ia berharap pengetahuan yang diperoleh para tokoh masyarakat dapat diteruskan kepada warga lainnya sehingga program tersebut memberikan dampak yang lebih luas setelah mahasiswa KKN Tematik ULM menyelesaikan kegiatan pengabdian di desa.

Sementara itu, Sekretaris Desa Sumber Baru, Muhammad Sholihin, S.Pd., menyambut baik pelaksanaan Eco Cycle. Ia mengaku kegiatan tersebut memberikan pengalaman dan edukasi baru bagi masyarakat karena dilengkapi dengan praktik secara langsung.
“Jujur saya sangat excited karena sebelumnya selama saya menjabat di desa belum pernah ada sosialisasi dan praktik seperti ini. Ini menambah pengalaman serta edukasi di masyarakat,” kata Sholihin.
Menurutnya, kegiatan semacam ini sangat dibutuhkan karena masih terdapat masyarakat yang belum memahami pengelolaan sampah secara tepat. Dengan adanya Eco Cycle, warga mendapat contoh langsung mengenai bagaimana sampah dapat dipilah dan dikelola agar lebih bermanfaat.
Sholihin berharap program yang digagas kelompok KKN Tematik ULM tersebut dapat terus diterapkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga melihat pengelolaan sampah berpotensi memberikan manfaat ekonomi apabila dilakukan secara konsisten.
“Harapannya seluruh masyarakat nantinya bisa menerapkan Eco Cycle seperti yang dipraktikkan tadi, bisa bermanfaat untuk keseharian di masyarakat, dan juga jangka panjangnya bisa menghasilkan nilai ekonomis bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia pun mengajak masyarakat meningkatkan kesadaran menjaga lingkungan, mengurangi kebiasaan membuang sampah sembarangan, serta membiasakan pemilahan sampah berdasarkan jenisnya, mulai dari organik, anorganik hingga bahan berbahaya dan beracun (B3).
Melalui program Eco Cycle, KKN Tematik ULM di Desa Sumber Baru berharap edukasi mengenai pengelolaan sampah tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi berkembang menjadi kebiasaan masyarakat dalam menjaga lingkungan sekaligus menciptakan desa yang lebih bersih, mandiri, dan berdaya.










