pro1.id,TANAH BUMBU – Kelompok KKNT-LH ULM di Desa Bulurejo mendorong masyarakat untuk mulai mengubah kebiasaan dalam mengelola sampah rumah tangga melalui program Sosialisasi Gerak Pilah sekaligus pengadaan KOMPAK (Komposter Praktis untuk Keluarga).



Kegiatan yang berlangsung pada 30 Juli hingga 4 Agustus 2026 tersebut menyasar tujuh Dasawisma yang berada di tujuh RT berbeda di Desa Bulurejo. Selain memberikan edukasi mengenai pemilahan sampah, warga juga diajak mempraktikkan langsung penggunaan komposter dan biopori untuk mengolah sampah organik.

Program tersebut hadir sebagai upaya mengurangi persoalan sampah organik rumah tangga, terutama sisa makanan dan limbah dapur yang selama ini kerap dibuang atau bahkan dibakar. Melalui komposter dan biopori, sampah organik diarahkan untuk diolah menjadi bahan yang dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk bagi tanaman di lingkungan Dasawisma.




PIC Program Kerja, Denita Siregar, mengatakan pendekatan yang dilakukan kepada warga tidak hanya melalui penyampaian materi, tetapi juga dengan praktik langsung. Menurutnya, cara tersebut membuat masyarakat dapat melihat manfaat pengolahan sampah organik secara nyata.
“Kami menggunakan pendekatan emosional dan demonstratif. Kami membangun kedekatan dengan aktif membantu kegiatan ibu-ibu Dasawisma, kemudian tidak hanya menyampaikan, tetapi juga membuktikan bahwa sampah organik bisa diolah menjadi kompos dan bernilai guna untuk kebun warga,” ujar Denita.


Antusiasme warga pun terlihat ketika praktik penggunaan komposter dan biopori dilakukan di masing-masing Dasawisma. Sejumlah ibu-ibu aktif bertanya mengenai kapasitas komposter, bau yang ditimbulkan hingga waktu yang dibutuhkan sampai sampah berubah menjadi kompos.
Denita menyebut respons tersebut menunjukkan warga mulai memiliki ketertarikan untuk menerapkan pengolahan sampah organik secara mandiri di rumah.

“Pertanyaan-pertanyaan itu bukan sekadar tanya. Itu tanda mereka benar-benar berpikir dan mau mencoba di rumah,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, warga juga diberikan pemahaman mengenai cara pembuatan dan perawatan komposter serta biopori. Termasuk penggunaan molase dan EM4 dengan takaran yang sesuai untuk membantu proses penguraian sampah organik dan mempercepat terbentuknya pupuk.

Program ini juga diharapkan memberikan manfaat ekonomi bagi pengelola Dasawisma. Dengan tersedianya sumber pupuk mandiri dari limbah rumah tangga, kebutuhan membeli pupuk untuk tanaman dapat ditekan.

Sekretaris Dasawisma, Muntiati, mengatakan penggunaan komposter dan biopori dinilai dapat membuat pengelolaan kebun menjadi lebih hemat dan efisien. Pupuk yang dihasilkan berasal dari sisa aktivitas memasak warga sehingga tidak perlu selalu mengeluarkan biaya untuk membelinya.
“Lebih hemat karena pupuknya gratis, dari limbah-limbah kita memasak yang dikumpulkan. Jadi lebih efisien dan lebih hemat untuk pembelian pupuk,” ujar Muntiati.
Pupuk hasil pengolahan tersebut nantinya akan dimanfaatkan untuk sejumlah tanaman yang dikembangkan di kebun Dasawisma, seperti terong, tomat dan lombok. Tanaman tersebut dipilih karena memiliki masa produksi yang lebih panjang dibandingkan sayuran berumur pendek seperti bayam dan sawi.
Sementara itu, Ketua RT 09, Rifani, menilai program tersebut memiliki potensi besar dalam mengurangi persoalan sampah organik di lingkungan masyarakat. Menurutnya, sisa makanan dan sayuran yang sebelumnya menimbulkan bau serta mengundang lalat kini dapat diolah dan memiliki nilai guna.
“Dengan adanya komposter dan biopori ini, sampah organik yang dulunya jadi sumber masalah sekarang justru punya nilai guna bagi warga. Saya yakin keluhan soal bau sampah basah di lingkungan kita akan jauh berkurang dan bonusnya tanah kita juga jadi lebih subur,” kata Rifani.
Ia menegaskan keberlanjutan program membutuhkan pembiasaan dari masyarakat. Pengurus RT dan Dasawisma diharapkan dapat memberikan contoh serta terus mengingatkan warga agar konsisten memilah dan mengolah sampah organik.
“Fasilitas ini bukan milik pengurus saja, tapi milik kita bersama. Mari kita jadikan gerakan pemilahan sampah sebagai kebiasaan baru, bukan sekadar gaya-gayaan sesaat, demi lingkungan RT yang lebih bersih, sehat dan hijau,” tegasnya.

Dukungan terhadap keberlanjutan program juga disampaikan Sekretaris Desa Bulurejo, Abdul Rohman Zulianto. Ia menilai pengolahan sampah organik melalui biopori dan komposter dapat menjadi salah satu solusi jangka panjang bagi persoalan sampah rumah tangga sekaligus membantu menyuburkan tanah dan tanaman.
“Pasti akan berkelanjutan. Kita support program ini karena memang berdampak positif di lingkungan kami, terutama terkait permasalahan sampah yang bisa dikelola,” ujar Abdul Rohman.
Pemerintah Desa Bulurejo, lanjutnya, siap memberikan dukungan semaksimal mungkin terhadap keberlanjutan program tersebut, meskipun tetap menyesuaikan dengan kemampuan anggaran desa.
Di sisi lain, Denita mengungkapkan salah satu momen yang paling membanggakan selama pelaksanaan program terjadi ketika seorang warga secara mandiri meminta kembali modul pembuatan komposter untuk dipraktikkan di rumah.
“Di titik itu saya merasa semua tenaga dan pikiran kami terbayar. Ternyata apa yang kami ajarkan tidak hanya didengar, tetapi juga ingin langsung diterapkan,” ungkapnya.
Melalui Gerak Pilah dan KOMPAK, mahasiswa KKN berharap kebiasaan memilah dan mengolah sampah dapat terus dilanjutkan masyarakat setelah program pendampingan berakhir. Dengan begitu, pengelolaan sampah tidak berhenti sebagai kegiatan KKN, tetapi berkembang menjadi kebiasaan bersama untuk menciptakan lingkungan Desa Bulurejo yang lebih bersih, sehat dan berkelanjutan.










