pro1.id, TANAH BUMBU – Kelompok KKN Tematik Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Desa Bulurejo, Kecamatan Mantewe, Kabupaten Tanah Bumbu, melaksanakan program Sahabat 3R (Sadar Hemat Bersih Bersama Terapkan 3R) sebagai upaya meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan melalui edukasi pengelolaan sampah sejak usia dini.



Program tersebut digelar di SDN 2 Bulurejo pada Senin (27/7/2026) dan TPQ Nurul Yaqin pada Rabu (29/7/2026). Kegiatan diisi dengan sosialisasi mengenai pemilahan sampah berdasarkan jenisnya serta penerapan konsep Reduce, Reuse, dan Recycle (3R). Khusus di SDN 2 Bulurejo, siswa juga diajak mempraktikkan pembuatan gantungan kunci dari tutup botol bekas sebagai bentuk pemanfaatan sampah anorganik. 

Kepala SDN 2 Bulurejo, Umi Hanik, S.Pd.SD, mengatakan kegiatan tersebut memberikan pemahaman baru kepada siswa bahwa sampah tidak selalu menjadi barang yang harus dibuang.



“Anak-anak jadi tahu kalau sampah itu tidak semuanya tidak berguna. Ada yang bisa didaur ulang sehingga mempunyai nilai lebih. Mereka juga menjadi paham mana sampah yang bisa didaur ulang dan mana yang tidak,” ujarnya.
Menurutnya, praktik membuat gantungan kunci dari tutup botol bekas juga mampu mendorong kreativitas siswa. Barang yang semula dianggap sebagai limbah dapat diolah menjadi kerajinan yang bernilai guna bahkan berpotensi memiliki nilai jual.


“Dari kegiatan membuat gantungan kunci tadi timbul kreativitas anak. Sampah yang biasanya dibuang ternyata bisa dimanfaatkan menjadi gantungan kunci. Harapannya nanti mereka bisa membuat karya lain dari bahan-bahan bekas yang berbeda,” katanya.

Ia berharap pengetahuan yang diperoleh siswa tidak berhenti saat kegiatan berlangsung, tetapi menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

“Harapan saya anak-anak tetap mengingat sampah apa saja yang bisa dimanfaatkan, terus menjaga kebersihan lingkungan, dan memanfaatkan sampah menjadi hal-hal baru yang berguna,” tambahnya.
Sementara itu, Guru TPQ Nurul Yaqin, Ustadz Fathullah, mengapresiasi inisiatif mahasiswa KKN yang menghadirkan edukasi lingkungan kepada para santri.

“Alhamdulillah, kami mewakili keluarga besar TPQ Nurul Yaqin sangat mengapresiasi kegiatan ini. Anak-anak selama ini mungkin hanya tahu membuang sampah pada tempatnya, tetapi belum memahami bahwa sampah perlu dipilah antara organik dan anorganik,” ungkapnya.

Ia menilai materi yang disampaikan juga selaras dengan nilai-nilai yang diajarkan di TPQ, yakni menjaga kebersihan sebagai bagian dari ajaran agama.
“Di TPQ kami selalu mengajarkan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Praktik memilah sampah dan menerapkan 3R merupakan wujud nyata dari ajaran tersebut. Islam tidak hanya mengajarkan ibadah, tetapi juga mengajarkan manusia menjaga lingkungan,” jelasnya.
Fathullah berharap edukasi yang diberikan mahasiswa KKN dapat diterapkan anak-anak dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi kebiasaan yang dibawa hingga ke lingkungan keluarga.
“Semoga ilmu yang didapat hari ini tidak hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri, tetapi benar-benar dipraktikkan. Kami berharap anak-anak bisa menjadi contoh sekaligus pengingat bagi keluarga mereka untuk lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan,” pungkasnya.

Ketua KKN Tematik ULM Kelompok 13 Desa Bulurejo, Muhammad Azka Rifani, mengatakan tema 3R dipilih karena dinilai menjadi langkah sederhana yang mudah dipahami sekaligus dapat membentuk kebiasaan peduli lingkungan sejak usia dini.
“Kami melihat pentingnya menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini. Tema 3R, pemilahan sampah, dan daur ulang tutup botol dipilih karena mudah dipahami dan dipraktikkan oleh adik-adik di sekolah. Harapannya, kebiasaan baik ini bisa diterapkan setiap hari, baik di sekolah maupun di rumah,” ujarnya.
Azka menilai tujuan utama program edukasi tersebut telah tersampaikan dengan baik. Hal itu terlihat dari antusiasme peserta selama mengikuti sosialisasi maupun praktik pembuatan kerajinan dari bahan bekas.
“Alhamdulillah, menurut kami tujuan awal kegiatan ini sudah cukup berhasil tersampaikan. Adik-adik terlihat antusias mengikuti materi, aktif menjawab pertanyaan, dan mulai memahami perbedaan jenis-jenis sampah serta pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, baik di sekolah maupun di rumah,” katanya.

Ia berharap kegiatan serupa dapat memberikan dampak jangka panjang melalui dukungan dari sekolah maupun lingkungan sekitar, sehingga budaya memilah sampah tidak hanya berhenti pada kegiatan KKN.
“Harapan kami, edukasi ini tidak berhenti hanya sebagai kegiatan hari ini, tetapi dapat menjadi kebiasaan yang terus diterapkan. Semoga pihak sekolah terus mendukung budaya memilah sampah dan menjaga kebersihan, sedangkan adik-adik bisa menjadi contoh bagi teman-teman dan keluarga dalam menerapkan kebiasaan peduli lingkungan,” pungkasnya.










